Dari Muhasabah Al-Ghazali sampai PDCA Deming
William
Edwards Deming (1900-1993) seorang pakar managemen kualitas diri berkebangsaan
Amerika telah membuat untaian rumus bagaimana agar seorang diri pribadi, sebuah
lembaga atau organisasi bisa meningkatkan kualitasnya dari hari kemarin. Teori
Deming yang sudah sangat populer adalah PDCA (Plan, Do, Check, Act). Plan
(merencanakan) adalah tahap menetapkan target, Do (melaksanakan)
adalah melaksanakan apa yang telah ditarget, Check (memeriksa) adalah
peninjauan ulang, evaluasi dan membandingkan capaian dengan target, dan Act (menindak)
adalah mengambil tindakan yang diperlukan setelah diketahuinya hasil capaian
target.
Dalam
khazanah keilmuan masa lalu ditemukan tradisi pemikiran managemen diri yang
juga sangat populer yaitu teori Tazkiyatunnafsi
Al-Ghazali (1058-1111) yaitu
pendakian jiwa untuk mencapai kesempurnaan diri. Pada dasarnya semua manusia di
awal dan akhir penggalan waktu tertentu dalam kehidupannya membutuhkan upaya
kongkrit dan terstruktur dalam jiwanya untuk melakukan moving (pergerakan
dan pendakian) menuju ke titik kesempurnaan, gerakan jiwa ini memerlukan pressing
(penekanan) setiap penggalan waktu dan
menggambarkan etape (pentahapan-pentahapan) yang spesifik sesuai dengan isi dan
substansi saat itu. Teori Al-Ghazali ini meski konteksnya adalah individu,
namun bisa dielaborasikan untuk keperluan managemen lembaga dan organisasi guna
mencapai keunggulan dan kejayaan dalam mencapai visi dan misinya di masa-masa
yang akan datang.
Al-Ghazali
mengibaratkan manusia dengan kekuatan akal budinya laksana pedagang ruhani yang
meniti jalan akherat untuk menggapai keuntungan (laba) berupa tazkiyatunnafsi (kesucian jiwa).
Orang yang berhasil menjaga dan memelihara kesucian jiwa sampai akhir hayatnya
akan dipanggil oleh Allah dengan panggilan : “Wahai jiwa-jiwa yang tenang! Menghadaplah pada Tuhanmu
dengan ridla dan diridlai, masukkal ke dalam kelompok hambaKu dan masukkalah ke
dalam surgaKu” (QS. Al-Fajr: 27-30), tidak ada keberuntungan dan kebahagiaan
yang melebihi panggilan tersebut, dan itu akan diperoleh melalui upaya tazkiyatunnafsi. Ketika seorang diri manusia bisa
memperolehnya ketika itu pulalah kebahagiaan akan bersemayam dalam jiwanya,
namun ketika tazkiyatunnafsi gagal diraihnya, maka rasa kerugian dan
ketidakbermaknaan (meaningless) akan menghinggapinya, dan akibatnya jiwa
menjadi merana dan tidak akan bahagia di dunia dan apalagi di akhiratnya.
Menurut
Al-Ghazali ada 5 etape dalam pendakian jiwa untuk menggapai tazkiyatunnafsi yang
selayaknya dilakukan oleh setiap pribadi bersamaan dengan perjalanan waktu
selama kehidupannya, yaitu: Musyarathah
(komitmen melakukan kebaikan), Muraqabah (monitoring pelaksanaan
kebaikan), Muhasabah (penghitungan hasil kebaikan), Mu’aqabah (pemberian
sanksi karena melanggar komitmen), Mujahadah (bersungguh-sungguh untuk
kembali pada komitmen).
Musyaratah,
pada tahap ini setiap diri pribadi kita hendaknya di awal tahun, awal bulan
atau awal hari melakukan proses transaksi psikologis berupa menetapkan komitmen-komitmen
prilaku kebaikan (knowing the good, doing the good, loving the good).
Proses ini layaknya para pedagang yang sedang giat mencari dan menambah
barang-barang perniagaan, seberapa kuat tekad dan semangatnya untuk
mengumpulkan barang-barang itu sebesar itu pula keuntungan yang akan ia peroleh
kelak ketika barang-barang itu laku terjual. Dalam konteks tazkiyatun nafsi maka
tahap ini adalah tahap dimana seseorang diri terus-menerus secara kontinyu
mengarahkan kaki dan langkahnya untuk melakukan kebaikan melebihi hari
kemarinnya. Tajdidun niat atau proses selalu memperbaharui niat dan
tekad untuk melakukan kebaikan adalah icon yang selalu digelorakan oleh
jiwa pada setiap penggal awal waktu dalam kehidupan kita. Tahap Musyaratah
ini layaknya merupakan langkah Plan (merencanakan kegiatan) dan
sekaligus do (melaksanakan kegiatan) pada managemen diri/organisasi
yang ditawarkan oleh Deming.
Muraqabah,
pada tahap ini setiap diri kita melakukan
monitoring dan pengintaian psikologis terhadap langkah kita sendiri. Apa
yang sudah kita yakini sebagai sebuah kebaikan dan kemudian kita lakukan, harus
selalu dipantau dan terus menerus kita sadari bahwa kita sedang merealisasikan
janji dan komitmen yang sudah kita buat sebelumnya. Iblis dan syaithan memang
musuh kita yang nyata setiap saat, dia tidak rela kalau kita kelak akan
dimasukkan surga oleh Allah Swt, maka dia selalu membuntuti setiap langkah kita
dan memasukkan keraguan (was-was) dalam hati sanubari kita. Maka kita hendaknya
selalu menyadari bahwa pada setiap kebaikan yang kita lakukan pasti akan ada potensi
sifat jelek yang selalu mengirinya baik dari dalam diri kita sendiri seperti ujub,
riya’ atau yang datang dari luar diri kita seperti hasud (dengki,
iri hati) dari orang lain. Pada tahap ini setiap diri hendaknya terus menerus
dengan sabar dan sadar bahwa kita dulu datang dari Allah, sekarang sedang
berada pada jalan Allah, sedang mendaki dan meniti jalan karena Allah, tujuan
perjalanan kita adalah menuju Allah, dan segala kekuatan dan daya yang kita
pakai hakekatnya adalah kekuatan Allah, itulah prinsip tauhid yang suci. Tahap Muraqabah
ini mungkin sejalan dengan tahap check (monitoring ) pada teori
managemen Deming.
Muhasabah,
yaitu proses untuk melihat ulang dan mengevaluasi semua amal ibadah yang
sudah kita lakukan pada hari-hari kita. Kita mencocokkan hasil dan nilai amal
kita sendiri apakah sudah sesuai dengan komitmen kita, apakah realisasi
aktifitas amal saleh dan amal ibadah mengena target yang sudah kita rumuskan
sebelumnya. Biasanya muhasabah dilakukan pada saat menjelang akhir
penggalan waktu tertentu, akhir hari, akhir bulan atau akhir tahun. Tujuan
akhir muhasabah adalah diketahuinya capaian aktifitas dan amal saleh.
Ibaratnya para pedagang, tahap muhasabah ini adalah tahap dimana mereka
sedang menghitung untung rugi dari perniagaannya. Pesan Sayyidina Umar RA yang
sudah sangat populer : “Hasibu anfusakum qabla an tuhasabu” (hitunglah hasil amalmu sendiri sebelum kamu
semua dihitung oleh Allah di akherat). Etape ini kita memang harus jujur dan
fair terhadap diri sendiri. Kejujuran dan fairness lah yang akan membuat
tahap auditing ini berhasil dan efektif meningkatkan mutu diri dan organisasi.
Keberanian untuk memberikan status pada diri sendiri dan amal yang sudah kita
lakukan merupakan kunci pokok bagi terwujudnya langkan berikutnya.
Mu’aqabah,
adalah tahap dimana kita harus berani memberikan sangsi dan punishment terhadap
diri sendiri atas kekurangan dan bahkan keteledoran diri dalam beramal dan
beraktifitas dalam kehidupan kita. Banyak manusia tidak mampu melakukan ini
karena mungkin tidak merasa bersalah atau tidak merasa berdosa atas pelanggaran
dan keteledoran dirinya dalam perbuatan tertentu. Sayyidina Umar pernah suatu
hari sedang asyik di kebunnya hingga teledor tidak ikut berjamaah shalat ashar,
ketika ia keluar dari kebunnya orang-orang sudah kembali dari masjid, maka ia
lalu menghukum dirinya dengan mensedekahkan kebun itu untuk kepentingan
orang-orang miskin. Mu’aqabah merupakan cermin sikap kesatria dari
seseorang dan sekaligus menunjukkan sifat keadilannya, dimana ia tidak saja berani
menghukumi dan memperlakukan keadilan itu pada orang lain, tetapi juga pada
diri sendiri karena kesadarannya sendiri bahwa dimanapun kejelekan harus
ditindak dan diganti dengan kebaikan. Hadis Nabi: “Bertaqwalah kamu sekalian
pada Allah dan ikutkanlah kebaikan pada kejelakan yang (telah terlanjur) kau
perbuat pasti akan menghapuskannya”. Mu’aqabah
ini bisa muncul karena adanya kekuatan jiwa lawwamah (pencela) dalam
diri kita yang sanggup mengingatkan dan memberi sinyal bahwa kita sudah
melanggar norma.
Mujahadah,
adalah tahap dimana masing-masing diri kita sudah melampaui keempat tahap
sebelumnya dan kita berada pada posisi insightfull (kesadaran penuh)
bahwa kita sedang melakukan pendakian jiwa menuju kesempurnaan hidup. Bukti
adanya mujahadah adalah kita selalu bersungguh-sungguh, giat dan selalu
bahagia dalam setiap langkah dalam hidup ini, selalu merasakan bahwa kehidupan
ini selalu bermakna, hidup ini tidak berangkat dari nol dan menuju ke titik nol
lagi dan begitu seterusnya, tetapi dalam mujahadah ini orang selalu
menyadari bahwa hidupnya dari dan menuju Allah dengan kekuatan Allah, dia juga
sadar bahwa selama proses pendakian itu banyak kekuatan dari dalam dan luar
dirinya berusaha menghalangi dan merintanginya yang lalu dia harus melawannya
dengan sungguh-sungguh tidak boleh lengah dan lalai untuk mencapai kemenangan
hakiki. Kalau muhasabah cocok dilakukan pada akhir penggalan waktu
tertentu maka mujahadah relevan
dengan awal penggalan waktu tertentu awal hari, awal minggu, awal bulan atau
awal tahun yang berfungsi untuk menutup kekurangan dari amal sebelumnya.
Ibaratnya para pedagang mereka di awal tahun lalu meningkatkan kualitas
barang-barang dagangannya juga kualitas layanan pada konsumen. Dalam konteks Deming tahap ini merupakan tahap
Act (tindakan) yang perlu dan sesuai dengan karakter kondisi riil pada
diri atau organisasi. Dengan act ini layaknya pasien maka dokter akan
memberikan therapi yang sesuai dengan jenis keluhan dan penyakit yang
dideritanya.
Dengan
renungan dua tokoh Al-Ghazali dan Deming ini semoga masing-masing diri pribadi
maupun lembaga dan organisasi yang kita pimpin mampu melakukan refleksi terhadap aktifitas kita untuk mengakhiri tahun 2017 dan mengawali
tahun 2018 semoga kita sebagai pribadi mapun sebagai lembaga dan organisasi
bisa lebih meningkat ke arah yang lebih baik, Amin.
Komentar
Posting Komentar