PENDIDIKAN KARAKTER: KONSEP DAN AKTUALISASINYA DALAM SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
PENDIDIKAN
KARAKTER:
KONSEP
DAN AKTUALISASINYA DALAM SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
Oleh: Prof. Dr. Ali Mudlofir,
MAg.
Alhamd lillah wa al-Syukru lillah, wa al-Shalatu wa
al-Salamu ‘ala Rasulillah Sayyidina Muhammad ibn ‘Abdillah wa ‘ala Alihi wa
Ashabihi wa Tabi’ihi wa Man Walah. La
Haula wa la Quwwata illa bi allah. Wa ba’du .
Yang kami mulyakan Bapak Dirjen Pendidikan
Islam Kementerian Agama RI (Bapak Prof. Dr. H. Nursyam, M. Si)
Yang kami mulyakan, Dewan Penyantun
IAIN Sunan Ampel,
Yang
kami mulyakan, Bapak Rektor IAIN Sunan
Ampel selaku Ketua Senat,
Yang
kami mulyakan, Para Wakil Rektor IAIN Sunan Ampel,
Yang
kami mulyakan Anggota Senat IAIN Sunan
Ampel,
Yang
kami mulyakan Direktur Program Pascasarjana
Yang
kami Para Guru Besar IAIN Sunan Ampel,
Yang
kami hormati, Para Dekan/Wakil Dekan/Kajur/Sekjur di lingkungan IAIN Sunan Ampel,
Yang
kami hormati, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Prop. Jatim,
Yang
kami hormati, Kabid Madrasah dan PAI Kanwil Prop. Jatim
Yang
kami hormati, Kasi Mapenda Kabupaten/Kota se Jatim
Yang
kami hormati Para Pimpinan PTAIS Wilayah IV
Yang
kami hormati Direktur Bank Tabungan Negara Capem IAIN
Yang
kami hormati Para Kepala Sekolah/Madrasah Mitra Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan (FITK) IAIN Sunan Ampel,
Yang
kami hormati Para Dosen, Karyawan dan Sivitas Akademika IAIN
Yang
kami hormati Bapak/Ibu/Saudara hadirin yang budiman.
A. Mukaddimah
Alhamdulillah,
segala puji bagi Allah Tuhan Yang Maha ‘Alim, Dzat yang ilmuNya luas tak
berbatas, Dzat yang seandainya seluruh air lautan menjadi tinta untuk
menuliskan ilmuNya, pastilah air lautan akan habis sebelum ilmuNya selesai
dilukiskan.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan pada baginda
Rasulillah Muhammad Saw., keluarga, para sahabat dan pengikutnya. Nabi dan
utusan Allah ini telah menampilkan diri sebagai figur guru dan pendidik sejati
bagi umat manusia sepanjang masa, sekaligus merupakan miniatur Insan Kamil (pribadi paripurna) yang
akan menjadi model produk lulusan
pendidikan Islam bagi umatnya.
Majelis Senat IAIN yang terhormat!
Hadirin yang berbahagia!
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan sekaligus bersejarah
bagi diri kami, karena Allah Swt. telah menaqdirkan kami untuk dapat mencapai
puncak karir keilmuan kami secara formal, dengan penganugerahan jabatan
akademik kami sebagai Guru Besar, meski kami sadar bahwa hakekatnya gelar ini
hanyalah setitik air di lautan dari ilmu-ilmuNya yang amat luas.
Sebagai ungkapan rasa syukur kami, dalam
kesempatan ini izinkan kami untuk mengucapkan terimakasih yang
setinggi-tingginya kepada:
1.
Kedua orang tua kami Bapak Hj. Mahfudh
Idris dan Ibunda Hj. Siti Djariyah, Ama. (alm.) juga Bapak/Ibu mertua kami
Bapak H. Turmuzi (alm.) dan Ibu Hj. Ruqayah
atas segala bimbingan dan asuhannya semenjak kecil sampai saat ini
sehingga kami dapat mencapai gelar keilmuan ini.
2.
Istri kami tercinta Dra. Hj. Siti Nurul
Hidayah, yang telah tekun dan setia dengan penuh kesabaran mendampingi kami
meniti suka dan duka kehidupan.
3.
Anak-anak kami tercinta (AHIZ): Azma, Husna, Ilman, Zidan yang hari-harinya selalu
menyertai kami, bahkan seringkali hak mendapatkan pendampingan ayah tak
terpenuhi.
4.
Semua guru kami sejak di Madrasah
Ibtidaiyyah Ma’arif Gandu, Madrasah Diniyah Sore, Madrasah Tsanawiyah/Aliyah Al-Islam
Joresan semuanya berlokasi di Ponorogo,
atas fondamen ilmu pengetahuan yang beliau semua telah tanamkan pada
diri kami, akhirnya kami bisa mencapai keberhasilan ini.
5.
Semua rekan dan kolega kami para dosen
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Sunan Ampel.
Hadirin Yang budiman!
Pada bulan Mei ini ada 2 momentum yang sangat penting bagi
bangsa Indonesia, yaitu tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional dengan
tokohnya Ki Hajar Dewantoro, dan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional
dengan berdirinya organisasi Budi Utomo dengan tokohnya dr. Sutomo. Dua tokoh tersebut telah memberikan contoh
dan teladan yang baik dalam mendidik anak-anak bangsa ini dengan pendidikan
yang berbasis karakter.
Dua momentum itulah yang mengilhami kami
untuk mengangkat tema orasi dengan judul
“Pendidikan Karakter: Konsep dan Aktualisasinya dalam Sistem Pendidkkan”
sekaligus kado bagi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Sunan Ampel
Surabaya.
Acapkali kita mendengar obrolan para orang
tua tentang buah hatinya, “Saya bangga anak-anak saya sudah bisa bermain komputer”.
“Heran, cepat sekali mereka menguasai cara menggunakan HP”, tetapi manakala
obrolan itu berlanjut, maka pujian itu pada ujungnya bergeser menjadi keluhan
dan keprihatinan. Ini tatkala mereka sudah berbincang soal sikap dan perilaku
generasi muda pada umumnya. Mereka
bergumam : “Anak sekarang susah diatur, tak punya sopan santun, tak tahu
etika”, orang Jawa menyebutnya “Kadok
Wani Kurang Dugo”.
Banyak pihak berandai-andai, kalau saja
setiap kepandaian dibarengi dengan kepribadian yang mulia tentu akan lebih
indah. Andai peningkatan kecerdasan diiringi dengan kematangan mental tentu
akan melegakan dada semua orangtua. Sayangnya
kini “ilmu padi” tidak laku lagi, makin berisi makin merunduk sudah
tidak populer lagi. Sebagaimana lagu Pergi Sekolah karya Ibu Sud yang sudah
jarang didendangkan anak-anak. Padahal liriknya amat bermakna:…Selamat
belajar nak penuh semangat, Rajinlah selalu tentu kau dapat, Hormati
gurumu sayangi teman, Itulah tandanya kau murid budiman.
Kini menjadi budiman seolah bukan
kebanggaan lagi. Padahal itulah puncak capaian pendidikan: menjadi pribadi budiman,
menyayangi sesama, memiliki empati, dan berkepedulian sosial tinggi. Sudah
seharusnya semakin berprestasi seseorang semakin berbudi. Sebagaimana jauh-jauh
hari ditekankan oleh “Bapak” Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro, bahwa
pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti
(kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Undang-undang No.20/2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dengan tegas juga menggariskan, “Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa...”.
B. Wajah Pendidikan Kita Saat Ini.
Diakui dalam berbagai aspek, pendidikan di
negeri ini mengalami kemajuan. Sarana dan prasarana sekolah terus mengalami perbaikan.
Peningkatan anggaran pendidikan jelas wujud nyata dari tekad Pemerintah untuk
memajukan dunia pendidikan. Prestasi pelajar dan mahasiswa di berbagai ajang
kompetisi nasional maupun internasional juga membanggakan. Generasi penerus itu
setidaknya mampu membuat dada para orang tua mengembang bangga, karena anak-anak
bangsa ini ternyata mampu berkiprah di forum internasional.
Sebagai contoh dari statemen di atas Andy
Octavian Latief siswa SMAN 1 Pamekasan berhasil
meraih emas di Olimpiade Fisika Internasional ke-37 di Singapura, Firmansyah Kasim, siswa SMP Islam Athirah Makasar juga sudah dua
kali menggondol juara Olimpiade Fisika
Internasional mewakili Indonesia. Irwan Ade Putra, Pelajar SMAN 1 Pekanbaru ini sudah dua kali
meraih emas di AphO Kazakhstan dan Ipho Singapura, Olimpiade
Iptek Internasional, International
Sustainable World Energy, Engineering & Environment Project Olympiad, (I-SWEEEP) 2012 diselenggarakan di Houston,
Amerika Serikat pada 3 – 6 Mei 2012. Banyak
siswa Indonesia yang menang dalam ajang ini.
Enam siswa dari
Indonesia memboyong medali perak dan perunggu.
Duet Dwi Astuti dan Tisa Mahdiansari dari SMA Al-Kautsar, Lampung, meraih medali perunggu pada kategori Lingkungan Hidup. Penelitian mereka berjudul “The Utilization of Dry Field By Using Trickle Irrigation Method With Coconut Fiber As Emitter”. Jonathan Pradana Mailoa dari SMAK 1 PENABUR Jakarta mampu meraih medali emas dan Absolute Winner Olympiade Fisika Internasional tahun 2006 di Singapura. Oki Novendra, siswa Kelas X SMAN I Bogor mampu menganalisis misteri kematian penyanyi Michael Jackson dengan rumus matematika. Teorinya mampu mengantar dia merebut medali emas International Conference Young Scientist. Juga muncul nama Susanto Mega Ranto sebagai grand master catur termuda di Indonesia. Mereka memberi bukti nyata bahwa sebetulnya sumber daya manusia kita mampu berjaya bilamana kita bersungguhsungguh mengupayakannya. Kita bukan bangsa kuli atau inlander bodoh sebagaimana stempel yang ditempelkan kepada kita selama ratusan tahun oleh penjajah.[1]
Duet Dwi Astuti dan Tisa Mahdiansari dari SMA Al-Kautsar, Lampung, meraih medali perunggu pada kategori Lingkungan Hidup. Penelitian mereka berjudul “The Utilization of Dry Field By Using Trickle Irrigation Method With Coconut Fiber As Emitter”. Jonathan Pradana Mailoa dari SMAK 1 PENABUR Jakarta mampu meraih medali emas dan Absolute Winner Olympiade Fisika Internasional tahun 2006 di Singapura. Oki Novendra, siswa Kelas X SMAN I Bogor mampu menganalisis misteri kematian penyanyi Michael Jackson dengan rumus matematika. Teorinya mampu mengantar dia merebut medali emas International Conference Young Scientist. Juga muncul nama Susanto Mega Ranto sebagai grand master catur termuda di Indonesia. Mereka memberi bukti nyata bahwa sebetulnya sumber daya manusia kita mampu berjaya bilamana kita bersungguhsungguh mengupayakannya. Kita bukan bangsa kuli atau inlander bodoh sebagaimana stempel yang ditempelkan kepada kita selama ratusan tahun oleh penjajah.[1]
Di sela-sela prestasi
gemilang tersebut di atas, memang harus diakui masih terpampang sisi buram dari
mereka. Jumlah kaum muda pengguna narkoba masih mencemaskan. Informasi dari Balai
Diklat Badan Narkotika Nasional (BNN), terdapat sekitar 3,6 juta pecandu
narkoba di Indonesia yang melibatkan kaum muda. Kekerasan juga banyak mewarnai
dunia anak bangsa ini. Kekerasan pada saat masa orientasi siswa (MOS) masih saja
terjadi. Oknum kepala sekolah menempeleng siswa, siswa mengeroyok guru, hingga
guru BK mengadu dua siswanya untuk berkelahi di halaman sekolah. Tawuran antar pelajar
di jalanan tetap menjadi pemandangan yang biasa di mass media.
Geng perempuan ramai-ramai menghajar lawan
gengnya di lorong sekolah. Dari sisi susila juga banyak fakta yang membuat para
orang tua mengelus dada. Longgarnya pergaulan pria wanita membuat remaja
kebablasan. Angka aborsi di kalangan remaja masih tinggi. Kondisi sosial yang
semakin permisif, minimnya sanksi sosial,
membuat mereka gampang melanggar susila.
Dekadensi moral, rendahnya tanggung jawab
dan sikap amanah, dipertontonkan secara kasat mata di depan publik. Betapa
banyak pejabat publik yang diseret kemeja hijau gara-gara menelan uang rakyat.
Pada bulan Maret 2010, lembaga survey yang bermarkas di Hongkong yaitu Political &
Economic Risk Consultancy (PERC) masih menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup di
Asia Pasifik, mengalahkan posisi Kamboja, Vietnam, dan Filipina.
Kejujuran, telah menjadi barang langka
karena banyak sekolah telah mengajarkan kecurangan. Kecurangan diperagakan
secara “sembunyi-sembunyi” tapi massal pada saat pelaksanaan Ujian Nasional (UN)
berlangsung. Tetapi syukurlah, Kementerian Pendidikan Nasional terus berupaya memperbaiki
sistem dan mekanisme Ujian Nasional, sehingga kecurangan secara bertahap dapat
dieleminasi. Kini di mana-mana juga berkembang tekad untuk kembali ke jalan yang
benar melalui penandatanganan pakta kejujuran.
Disiplin dan tertib berlalu lintas, budaya
antri, budaya baca, hingga budaya bersih bangsa ini juga masih jauh di bawah
standar. Kebanggaan terhadap jati diri
dan kekayaan budaya sendiri juga masih rendah. Sebagai bangsa, agaknya kita
masih saja mengidap “minder kolektif”, terbukti masih suka tergila-gila dan
melahap tanpa seleksi terhadap segala produk dan budaya asing.
Dengan potret buram dan profil realitas anak-anak
bangsa seperti itu wajar jika Mendikbud Mohammad Nuh gelisah. Bahkan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono dalam banyak kesempatan berharap agar jajaran
menterinya membuat langkah serius untuk mengatasi masalah-masalah itu. Mengapa
pendidikan belum mampu mengubah perilaku menjadi lebih baik? Mengapa kejujuran,
komitmen, keuletan, kerja keras, hingga kesalehan seolah lepas dari persoalan
pendidikan.
Kita semua –khususnya
para pendidik- wajar merenung dan bertanya ulang: bagaimana karakter bangsa
ini? Atau dalam pertanyaan yang lebih konseptual tapi bernada waswas: bagaimana
masa depan Indonesia bila generasi penerusnya tidak memiliki karakter dan jati
diri? Pembangunan watak (character building) amat penting. Kita ingin membangun manusia Indonesia yang
berakhlak, berbudi pekerti, dan berperilaku baik. Bangsa kita ingin pula
memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban itu dapat kita capai
apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik (good society).
Sudah saatnya dibangun kembali kesadaran
akan pentingnya pembinaan karakter bagi insan Indonesia. Topik character building
memang mulai
mengemuka akhir-akhir ini. Berbagai pelatihan secara sporadis dilakukan untuk para
eksekutif, pendidik, karyawan perusahaan dalam bentuk outbound maupun workshop. Tentu itu aktivitas
itu bagus, tapi belumlah cukup. Perlu ada upaya bersama, sistemik, dan terpadu
agar pendidikan karakter menjadi efektif dan bergaung. Gerakan Nasional.
Demi menjawab kegelisahan itu, Kementerian Pendidikan Nasional
menggelar acara ”Sarasehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter
Bangsa” di Hotel Bidakara Jakarta pada 14 Januari 2010. Para pakar pendidikan,
tokoh masyarakat, budayawan, rohaniwan, akademisi, birokrat, praktisi, pengelola
pendidikan, dan pihak lain hadir dalam
acara tersebut. Pada akhir sarasehan disepakati komitmen pendidikan budaya dan
karakter bangsa harus dikembangkan secara komprehensif sebagai proses
pembudayaan.
Oleh karena itu, pendidikan dan kebudayaan
secara kelembagaan perlu diwadahi secara utuh, dan “tugas besar” ini merupakan
tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, sekolah, dan orang tua. Acara
sarasehan tersebut kemudian ditindaklanjuti tim khusus dengan melakukan
pertemuan-pertemuan intensif untuk menggodok rancangan desain induk (grand design) pendidikan karakter
yang dilengkapi panduan pada setiap satuan pendidikan beserta rancangan pelaksanaannya sebagai
sebuah gerakan nasional.
Presiden RI lalu mencanangkan pelaksanaan
Gerakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa pada Puncak Peringatan Hardiknas
2010. Istilah yang digunakan menjadi pembangunan karakter, bukan lagi
pendidikan karakter, sebab gerakan ini ternyata tidak hanya didukung oleh
Kementerian Pendidikan Nasional saja, tetapi meluas lintas kementerian yang
meliputi Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Politik
Hukum dan Keamanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, Kementerian
Keuangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perhubungan dan
Pariwisata, Kementerian Pemuda dan
Olahraga, serta Kementerian Peranan Wanita dan kementerian lain terkait. Munculnya
Gerakan Nasional ini merupakan ungkapan batin bahwa sebenarnya pendidikan bangsa
kita kini sedang sakit, pendidikan di negeri kita kini sedang tersesat, pendidikan bangsa kita kini sedang kehilangan
arah, ada mustika yang hilang dari pendidikan kita.
Sasaran gerakan ini adalah seluruh pemangku
kepentingan/ lintas kementerian demi terbangunnya karakter bangsa yang kokoh.
Khusus di bidang pendidikan, fokus utamanya adalah pada sekolah (peserta didik,
pendidik, tenaga kependidikan), keluarga (anak, orangtua, saudara, pembantu),
masyarakat (orang-orang di sekitar peserta didik), dan lingkungan.
Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap
dan berkesinambungan, ke depan pemerintah memasukkan pendidikan karakter melalui
penguatan kurikulum mulai dari tingkat satuan pendidikan terendah hingga perguruan
tinggi sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional. Namun perlu
ditegaskan tidak akan ada penambahan mata pelajaran tersendiri. Pendidikan karakter
diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, di samping lewat
pembiasaan dalam budaya sekolah, juga melalui ko-kurikuler dan ektrakurikuler, serta
melibatkan partisipasi lingkungan, keluarga, dan masyarakat.
Karakter dan pendidikan karakter bangsa
sejatinya bukan masalah baru bagi bangsa Indonesia, bukankah bangsa ini sejak
masa-masa jauh sebelum kemerdekaan sudah dikenal dengan bangsa yang ramah,
bangsa yang menghargai adat ketimuran, dahulu di sekolah-sekolah ditanamkan pendidikan budi
pekerti, pendidikan etiket, pendidikan sopan-santun (Toto Kromo Jw), dan sejenisnya, namun mengapa tiba-tiba seperti ada
petir di siang hari bangsa Indonesia –khususnya dunia pendidikan- terhentak
dengan issu pendidikan karakter? Apakah selama ini dunia pendidikan kita tidak
melakukannya? Lalu apa yang ditanamkan oleh sekolah-sekolah pada anak-anak
didiknya selama 16 tahun pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan
tinggi? Sisi manakah dari potensi anak-anak didik kita yang telah kita lupakan
dan kita abaikan? Mengapa sekolah-sekolah kita terkesan mengabaikan dengan
hal-hal demikian?.
Sekolah-sekolah di negeri ini telah
kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang selama ini dimiliki dan dijunjung
tinggi sebagai warisan leluhur, sekolah-sekolah lebih sibuk dengan sisi
akademik agar siswa mendapat nilai tinggi. Keberadaan pembelajaran nilai-nilai moral
dan karakter terabaikan. Nilai-nilai luhur warisan nenek moyang telah dianggap
basi. Wejangan-wejangan lewat kata-kata mutira Ki Hajar Dewantoro telah
dimusiumkan, semisal filosofi Sistem Among : “Ing Ngarso Asung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Andayani”, bukankah ini telah mengajarkan karakter keharusan
pemberian keteladanan dari para pemimpin, karakter pembakar semangat dalam sebuah team work, dan karakter loyalitas
pada pemimpin timnya .
Juga Pepatah Jawa “Ajining Sariro Soko Busono, Ajining Diri Soko Lati” ini
mengajarkan karakter menjaga performan dan menjaga lidah dari perkataan kotor
dan bohong. Juga Nasehat : “Pasir Wukir
Gemah Ripah Loh Jinawe, Toto Tentrem Kerto Raharja, Crah Agawe Bubrah Rukun
Agawe Santoso, kalimat-kalimat ini
sarat dengan karakter menjaga dan melestarikan lingkungan , menjaga persatuan
dan kesatuan, menaati kedisiplinan, menghindari perpecahan dan percekcokan.
Juga slogan: “Ojo Dumeh, Ojo Adigang
Adigung Adiguno” yang telah menanamkan karakter toleran dan menghargai
orang lain.
Slogan bahasa Jawa yang lain: “Nglurug
Tanpo Bolo, Sugih Tanpo Bondo, Menang Tanpo Ngasorake” slogan ini telah
menanamkan nilai/karakter kemandirian, kesederhanaan dan menghargai orang lain.
Juga: “Melu Handarbeni, Melu Hangrungkepi Mulat
Sariro Hangroso Wani” yang telah dengan nyata-nyata menanamkan karakter
cinta tanah air dan karakter kebersamaan.
Lagu Indonesia Raya yang setiap saat dikumandangkan mestinya memberikan dampak pada penanaman
nilai-nilai karakter:
“Bangunlah Jiwanya…….Bangunlah badannya……” jelas membangun jiwa terlebih dahulu
baru membangun raga dan intelektualnya, namun sayang lagu itu umumnya hanya
hafalan verbal yang tak membekas pada diri pendidik dan anak didiknya.
Dahulu waktu kami masih di sekolah dasar
sering melihat tulisan-tulisan dan slogan-slogan yang bernilai penanaman
karakter tertulis di dinding-dinding kelas, halaman sekolah, di pagar-pagar
rumah warga, di kantor-kantor kelurahan/kecamatan, dan di sentra-sentra public
lainnya. Namun sekarang hal demikian tidak banyak kita jumpai lagi,
sekolah-sekolah lebih mempromosikan hasil kejuaraan olimpiade, hasil UNAS,
lomba ini dan lomba itu, yang umumnya bersifat intelektualitas dan akademis,
sehingga tidak ada lagi tersisa ruang, papan dan dinding untuk menuliskan
mutiara-mutiara hikmah dan wejangan para leluhur (funding futhers). Pada sisi yang lain, juga muncul keinginan kuat
agar pendidikan nasional mampu melahirkan generasi bangsa Indonesia yang jujur,
berkarakter dan berdaya saing tinggi.
Mengejar prestasi akademis mamang harus, namun melupakan dan mengabaikan
nilai-nilai karakter dan moral merupakan kesalahan vatal, itulah akar penyebab
kehancuran bangsa. Penyair Arab mengatakan: “Innama al Umamu al-Akhlaqu ma Baqiyat, wa in Hum Dzahabat Akhlaquhum
Dzahabu” (Sesungguhnya suatu bangsa itu akan tetap kokoh dan eksis selama
penghuninya berakhlak dan berkarakter, jika akhlak dan karakternya hilang, maka
robohlah bangsa itu).
Apa yang terjadi di
Indonesia ini, sebenarnya juga terjadi di negara-negara lain. Profesor S. Shapiro dari
University of North Carolina meninjau kembali situasi pendidikan di Amerika
dalam Losing
Heart: The Moral and Spiritual Miseducation
of America’s Children. Ia menyaksikan sekolah-sekolah yang bersaing keras satu sama
lain demi mencapai kualifikasi tertinggi sesuai dengan alat ukur yang
ditetapkan pemerintah; ruang-ruang kelas
yang lebih mirip pabrik untuk memproduksi sumber daya manusia yang akan dijual
di pasar tenaga kerja; guru-guru yang sibuk mempersiapkan, melaksanakan, dan
memeriksa hasil tes yang makin lama makin canggih; para siswa yang mengarahkan
seluruh perhatiannya untuk lulus dalam tes-tes itu dengan ukuran dan kelulusan
yang makin lama makin berat; orangtua yang memberikan wejangan “Belajarlah yang
rajin, dapatkan nilai yang tinggi”, bukan lagi “Belajarlah yang rajin, jadilah
murid yang budiman ”.
Pendidikan sudah
berubah menjadi sekadar bersekolah. Guru tidak lagi mendidik, ia hanya mengajar. Murid tidak lagi tumbuh pribadi dan
karakternya ia hanya tambah pengetahuannya. Suasana sekolah yang menyenangkan, menggairahkan
dan mengesankan telah digantikan oleh situasi yang menegangkan, melumpuhkan,
dan membosankan. Dari sekolah-sekolah telah keluar orang-orang yang mengubah kearifan
menjadi informasi, masyarakat menjadi pasar, agama menjadi komoditas, politik
menjadi rekayasa, dan kesetiakawanan menjadi nepotisme.
Semuanya itu terjadi
karena pendidikan telah kehilangan jiwanya, telah dilepaskan dari esensinya. “Education
worthy of the name is essentially education of character,” kata Martin Buber.
Tujuan pembelajaran ialah menghasilkan pelajar yang lulus dalam ujian sekolah,
sementara tujuan pendidikan ialah menghasilkan anak didik yang lulus dalam
ujian kehidupan. Hasil belajar adalah pengetahuan. Hasil pendidikan adalah
karakter. “The
dimensions of character are knowing, loving, and doing the good,” kata Thomas
Lickona. Saya yakin bahwa para pendidik bangsa ini dahulu mendirikan sekolah
agar anak-anak didik mereka mengetahui yang baik, mencintai yang baik, dan mengamalkan
yang baik.
C. Hakekat dan Tujuan
Akhir Pendidikan dalam Islam
Muhammad
Jamaluddin Al-Qasimy dalam menjelaskan makna al-Tarbiyah adalah: “proses menghantarkan seseorang (anak
didik) sampai pada batas kesempurnaan
yang dilakukan secara tahap demi tahap”.[2]
Abdul
Fattah Jalal, bahwa hakekat pendidikan Islam adalah proses persiapan dan
pemeliharaan anak didik pada masa kanak-kanak.[3]
Pandangan ini diambil dari maksud surat al-Isra’: 24 dan surat al-Syu’ara’: 18
dimana pendidikan masa kanak-kanak akan sangat menentukan pribadi seseorang
dimasa tuanya.
Ismail
Haqi al-Buruswy
memberikan arti pendidikan Islam dengan proses pengembangan pikiran dengan
berbagai kecerdasan, bimbingan jiwa dengan hukum-hukum syari’ah, pengembangan
hati nurani dengan nilai-nilai kasih sayang dan etika kehidupan.[4]
Musthafa
al-Ghalayani memberikan pandangan tentang hakekat pendidikan adalah penanaman
etika yang mulia pada jiwa anak yang sedang tumbuh dan berkembang dengan cara
memberikan petunjuk dan nasehat, sehingga ia memiliki potensi-potensi dan
kompetensi-kompetensi yang mantap yang dapat membuahkan sifat-sifat bijak,
cinta akan kreasi dan berguna bagi tanah airnya.[5]
Musthafa
al-Maraghy mengemukakan visinya tentang esensi pendidikan adalah pembinaan dan
pengembangan jasad, jiwa dan akal manusia dengan berbagai petunjuk berdasar
wahyu untuk mencapai kesucian dan kesempurnaan.[6]
Al-Ashfahany
mengemukakan hakekat pendidikan dalam Islam adalah proses menumbuhkan sesuatu
secara bertahap yang dilakukan setapak demi setapak sampai pada batas
kesempurnaan.[7]
Athiyyah
al-Abrasyi berpendapat bahwa hakekat pendidikan Islami adalah upaya
mempersiapkan individu untuk kehidupan nyata yang lebih sempurna berisikan
kekuatan raga, ketajaman berpikir, kesempurnaan etika, giat dalam berkreasi,
toleran pada yang lain.[8]
Prof. Dr. Omar Mohammad
Thoumy al-Syaibani mengartikan pendidikan sebagai proses mengubah tingkah laku
individu pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya dengan cara
pengajaran sebagai aktifitas asasi dan sebagai profesi asasi dai antara
profesi-profesi asasi dalam masyarakat.[9]
Ahmad Fuad al-Ahwany
mengartikan pendidikan Islam sebagai: “Nidzam
al-ijtima’i yanba’u min falsafati kulli
umatin wa huwa al-ladzi yathbiqu hadzihi al-falsafah au yubrizuha ila al-wujud”[10]
Ali Khalil Abu
al-‘Ainain mendeskripsikan pendidikan Islam sebagai:
“al-Amaliyyah al-ijtima’iyyah wahiya
takhtalifu min mujtama’ li akhara hasba thabi’ati dzalika al-mujtama’ wa quwa
al-falsafah al-mutaatsirah fihi, bi al-idlafah ila al-qiyam al-ruhiyyah wa
al-falsafah al-laty ikhtaraha wa irtadlaha litaisiri alaiha hayatuha, wa makna
dzalika anna al-tarbiyah tasytaqqu ahdafuha min ahdaf al-mujtama’ wa tuhaddidu
khatwuha libulughi tilka al-ahdaf wa haula tilka al-ahdaf taduru falsafatuha,
wa min tsamma takhtalifu falsafatu al-tarbiyah min mujtama’ ila akhara bi ikhtilaf al-dhuruf al-mukhithah
bi kulli mujtama’ wa falsafatuha al-laty tashilu ilaiha limuwajahati tilka
al-dzuruf. [11]
Dalam
seminar Pendidikan Islam se-Indonesia Tahun 1960 disepakati hakekat pendidikan
Islam adalah “Bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani individu sesuai
dengan ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh
dan mengawasi berlakunya ajaran Islam pada dirinya”.[12]
Pengertian tersebut mengandung arti bahwa dalam proses pendidikan Islam
terdapat usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui tahapan setingkat demi
setingkat menuju tujuan yang ditetapkan yaitu menanamkan takwa dan akhlak serta
menegakkan kebenaran, sehingga terbentuklah manusia yang berkepribadian dan
berbudi luhur sesuai dengan ajaran Islam.
Adapaun tujuan akhir
pendidikan Islam menurut Abdurrahman al-Nahlawi sebagaimana dikutip oleh Abdul
Majid menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam yaitu memurnikan ketaatan dan
peribadatan hanya kepada Allah. Maka karenanya kurikulum pendidikan Islam yang
disusun harus menjadi landasan kebangkitan Islam baik dalam aspek intelektual,
pengalaman, fisik maupun sosial.[13]
Nuqaib al-Attas mengemukakan tujuan akhir pendidikan Islam adalah
manusia yang baik. [14]
Sedangkan Atiyyah al-Abrasyi dan Munir Mursy menyetujui pendapat Al-Ghazali
bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah kesempurnaan manusia (al-kamalah
al-insaniyyah).[15]
Mohammad Fadhil al-Jamali merumuskan tujuan akhir pendidikan Islam
dengan empat macam: (1) mengenalkan manusia akan perannya di antara sesama
makhluk dan tanggung jawabnya dalam hidup ini, (2) mengenalkan manusia akan
interaksi sosial dan tanggung jawabnya dalam tata hidup bermasyarakat, (3)
mengenalkan manusia akan alam dan mengetahui hikmah diciptakannya serta
mengambil manfaat dari padanya, (4) mengenalkan manusia akan pencipta alam
Allah Swt. dan tatacara beribadah kepadaNya.[16]
Mohammad Quthub berpendapat bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah kesempurnaan
manusia secara pribadi atau kelompok yang mampu menjalankan fungsinya sebagai
hamba Allah dan khalifahNya guna membangun dunia/alam sesuai dengan konsep yang
ditetapkan oleh Allah.[17]
Ciri-cirinya mengedepankan prinsip-prinsip berikut:
(1)
Al-Syumuliyah (universal) antara aspek aqidah, ibadah, akhlak
dan muamalah.
(2)
Al-Tawazun (keseimbangan)antara aspek pribadi, komunitas dan
kebudayaan.
(3)
Al-Tabayun (kejelasan) fungsi dan karakteristik berbagai aspek
kejiwaan manusia (qalb, ‘aql, dan nafs).
(4)
At-Tanasub (keterkaitan) antara berbagai aspek tersebut dan
tidak saling bertentangan.
(5)
Al-Waqi’iy (realistik) dapat dilaksanakan dan tidak
berlebih-lebihan.
(6)
Al-Taqaddumy (dinamis) dapat menerima perubahan sesuai dengan
perkembangan situasi dan kondisi masyarakat.
(7)
Al-Kamal al-Insaniy (kesempurnaan manusia) yaitu selalu mengedepankan
visi dan misi menggapai kesempurnaan pribadi muslim.
Menurut Omar Mohammad al-Taoumy Al-Shaibani: bahwa tujuan akhir
pendidikan Islam harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) menonjolkan pendidikan agama dan akhlak, (2) mempertimbangkan
pengembangan menyeluruh dari pribadi siswa, jasmani akal dan rohani, (3)mempertimbangkan
keseimbangan pribadi dan masyarakat, dunia dan akhirat, (4)memperhatikan seni, pahat, ukir, tulisan indah, gambar dsb.,
(5)memperhatikan perbedaan kebudayaan dan
perbedaan individu.[18]
Tujuan akhir Pendidikan Islam menurut rumusan Konferensi Pendidikan
Islam sedunia ke 2 tahun 1980 di Islamabad:
Education
should aim at the balanced growth of total personality of man throught the
training of man’s spirit, intellect, the rational self, feeling and bodily
sense. Education therefore cater for the growth of man in all its aspect,
spiritual, intellectual, imaginatives, physical, scientific, and linguistic
both individually and collectively and motivate all these aspects toward
goodness and attainment of perfection. The ultimate aim of education lies in
the realization of complete submission to Allah on the level individual, the
community and humanity at large.[19]
Berdasar kajian hakekat pendidikan Islam dan tujuan akhir yang akan
dicapai siswa dalam proses pendidikan Islam sebagaimana dikemukakan di atas,
maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang sangat
mengedepankan karakter dan bahkan pendidikan Islam adalah pendidikan yang
berbasis dan bersendikan karakter. Ini karena Islam sendiri adalah ajaran
karakter,
misi
kedatangan Nabi Muhammad Saw. untuk menyempurnakan akhlak dan budi
pekerti yang mulia, Innama bu’ithtu li utammima makarima al-akhlaq. Hanya
persoalannya mengapa lembaga-lembaga pendidikan Islam saat ini juga banyak yang
melupakan misi dan karakteristik tersebut?, mengapa banyak dari
madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah Islam telah larut dalam arus globalisasi
dengan meninggalkan ciri khas/karakteristik misi Islam?. Di sinilah letak
pentingnya kita menyadari bahwa banyak lembaga kita sedang sakit, karena kehilangan ruhnya, itulah pendidikan karakter.
D.
Apa Makna Karakter?
Aristoteles menyebut pengertian karakter
yang baik adalah kehidupan berperilaku baik dan penuh kebajikan, berperilaku
baik terhadap pihak lain Tuhan Yang Maha Esa, manusia, alam semesta dan
terhadap diri sendiri. Jonathan Webber dalam Journal of Philosophy
menjelaskan bahwa karakter adalah akumulasi dari berbagai ciri yang muncul
dalam cara berfikir, merasa dan bertindak[20]
(Webber, 2006: 95). Sikap pemberani atau pengecut seseorang dalam menghadapi
bahaya, sikap ketakutan dalam menghadapi orang banyak, merupakan contoh-contoh
sederhana tentang karakter seseorang.
Demikian pula rumusan yang dikemukakan Victor Battistch
dari Universitas Missouri St. Louis, dalam salah satu tulisannya berjudul Character
Education, Prevention and Positive Youth Development, menegaskan bahwa
karakter adalah konstelasi
yang sangat luas antara sikap, tindakan, motivasi dan ketrampilan. Karakter
mencakup sikap, tindakan, cara berfikir, dan respon terhadap ketidakadilan,
interpersonal dan emosional, serta komitmen untuk melakukan sesuatu bagi
masyarakat, bangsa dan negaranya[21]. Sebagaimana
Webber, Battistich juga melihat, karakter selalu dihadapkan pada dilema antara
baik buruk, dilakukan atau tidak dilakukan oleh seseorang. Melakukan yang baik
berarti berkarakter baik dan ideal, sebaliknya melakukan yang buruk berarti
berkarakter buruk.
Sejalan dengan keduanya, Katherine M.H, Blackford dan
Arthur Newcomb, dalam tulisannya tentang Analyzing Character menekankan tentang
karakter seseorang yang senantiasa berlawanan secara diametral antara baik dan
buruk. Akan tetapi, Katherine menegaskan bahwa orang-orang yang berkarakter
yang bisa diharapkan akan bisa maju dan akan mampu membawa kemajuan adalah
mereka yang memiliki ciri-ciri pokok, yakni, kejujuran, bisa dipercaya, setia,
bijaksana, penuh kehati-hatian, antusias, berani, tabah, penuh integritas dan
bisa diandalkan[22]. Karakter terdiri dari
tiga unjuk perilaku yang saling berkaitan yaitu: (1) tahu arti kebaikan, (2) mau
berbuat baik, dan (3) nyata berperilaku baik. Ketiga substansi dan proses psikologis
tersebut bermuara pada kehidupan moral dan kematangan moral individu. Dengan
kata lain, karakter dapat dimaknai sebagai kualitas pribadi yang baik.
Menurut dokumen Desain Induk Pendidikan
Karakter terbitan Kementerian Pendidikan Nasional, pendidikan karakter
didefinisikan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan
moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik
untuk mengambil keputusan yang baik, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan
kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.[23] Yang jelas pendidikan karakter selayaknya dikembangkan dengan pendekatan
terpadu dan menyeluruh.
Efektivitas pendidikan karakter tidak
selalu harus dengan menambah program tersendiri, melainkan bisa melalui
transformasi budaya dan kehidupan di lingkungan sekolah. Melalui pendidikan
karakter semua berkomitmen untuk menumbuhkembangkan peserta didik menjadi
pribadi utuh yang menginternalisasi kebajikan (tahu, mau), dan eksternalisasi
kebajikan berupa terbiasa mewujudkan kebajikan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Hingga saat ini, secara kurikuler telah
dilakukan berbagai upaya untuk menjadikan pendidikan lebih bermakna bagi
individu, tidak sekadar memberi pengetahuan (kognitif), tetapi juga menyentuh
tataran afektif dan psikomotor melalui mata pelajaran Pendidikan Agama,
Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Indonesia, dan
Olahraga. Namun harus diakui semua itu belum mampu mewadahi pengembangan karakter secara dinamis dan
adaptif terhadap pesatnya perubahan. Oleh karena itu pendidikan karakter perlu
dirancang-ulang dalam wadah yang lebih komprehensif dan lebih bermakna.
Pendidikan karakter perlu direformulasikan dan direoperasionalkan melalui
transformasi budaya dan kehidupan satuan pendidikan.
Secara kejiwaan dan sosial budaya
pembentukan karakter dalam diri seseorang merupakan fungsi dari seluruh potensi
individu (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi
sosiokultural (dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat) dan
berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dapat dikelompokan dalam olah
hati (spiritual and emotional development), olah pikir (intellectual development), olah raga dan kinestetik (physical and kinestetic development), serta olah rasa dan karsa (affective, attitude and social development). Keempat proses psikososial tersebut secara terpadu saling berkait dan saling
melengkapi, yang bermuara pada pembentukan karakter yang menjadi perwujudan
dari nilai-nilai luhur.
Apakah karakter identik dengan agama?, ada
persamaan-persamaan dan juga ada perbedaan antara keduanya. Persamaannya
keduanya sama-sama berbicara mengenai baik-buruk, sama-sama berbicara mengenai
moral dan kebajikan, namun sumbernya berbeda, agama jelas bersumber dari kitab
suci, baik dan buruk bersumber dari kitab suci, sementara karakter sumbernya
akal, budaya dan peradaban manusia.
Diskursus tentang karakter dan agama ini,
patut dicermati dan direnungkan hasil penelitian Scherazade S. Rehman
dan Hossein Askari yang disitir oleh
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. Dikatakan bahwa negara
dengan dominan Muslim sering tidak Islami. Begitulah kesimpulan artikel
Komaruddin Hidayat di harian Kompas. Tulisan Komaruddin ini mengulas sebuah
hasil penelitian sosial bertema “How Islamic are Islamic Countries,”
Penelitian itu, dengan metodologi yang juga dijelaskan Komaruddin, membuktikan
Selandia Baru adalah negara yang paling islami di antara 208 negara.
Tulisan itu hendak menyampaikan betapa pentingnya kesalehan
sosial dalam peri kehidupan sehari-hari. “…yang dimunculkan oleh Rehman dan
Askari bukan semarak ritual, melainkan seberapa jauh ajaran Islam itu membentuk
kesalehan sosial berdasarkan ajaran Al-
Quran dan hadis,”. Riset itu menyimpuklan, bahwa perilaku
sosial, ekonomi, dan politik negara-negara anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam) justru berjarak lebih jauh dari
ajaran Islam dibandingkan negara-negara non-Islam. Hal itu seolah mengamini
pernyataan ulama Muhammad Abduh setelah kunjungannya ke Eropa: “Saya melihat
Islam di Eropa, tetapi kalau orang Muslim banyak saya temukan di dunia Arab.”[24]
Kemendikbud telah mengintrodusir 18 macam
inti karakter dalam desain induk yang akan dikembangkan pada semua kegiatan pendidikan
dan pembelajaran serta penciptaan suasana yang kondusif di sekolah, yaitu:[25]
|
No
|
Nilai/Inti
Karakter
|
Deskripsi
|
|
01
|
Religius
|
Sikap dan perilaku yang patuh
dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan
ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
|
|
02
|
Jujur
|
Perilaku yang didasarkan pada
upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam
perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
|
|
03
|
Toleran
|
Sikap dan tindakan yang
menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang
lain yang berbeda dari dirinya
|
|
04
|
Disiplin
|
Tindakan yang menunjukkan
perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan
|
|
05
|
Kerja
keras
|
Perilaku yang menunjukkan upaya
sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta
menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
|
|
06
|
Kreatif
|
Berpikir dan melakukan sesuatu
untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki
|
|
07
|
Mandiri
|
Sikap dan perilaku yang tidak
mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas
|
|
08
|
Demokratis
|
Cara berfikir, bersikap, dan
bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain
|
|
09
|
Rasa
ingin tahu
|
Sikap dan tindakan yang selalu
berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang
dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
|
|
10
|
Semangat
kebangsaan
|
Cara berpikir, bertindak, dan
berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan
dari kelompoknya
|
|
11
|
Cinta
tanah air
|
Cara berfikir, bersikap, dan
berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi
terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik
bangsa.
|
|
12
|
Meghargai
prestasi
|
Sikap dan tindakan yang
mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat,
dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
|
|
13
|
Bersahabat/komunikatif
|
Tindakan yang memperlihatkan
rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
|
|
14
|
Cinta
damai
|
Sikap, perkataan, dan tindakan
yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya
|
|
15
|
Gemar
membaca
|
Kebiasan menyediakan waktu
untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya
|
|
16
|
Peduli
lingkungan
|
Sikap dan tindakan yang selalu
berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, dan
mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi
|
|
17
|
Peduli
sosial
|
Sikap dan tindakan yang selalu
ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan
|
|
18
|
Tanggung
jawab
|
Sikap dan perilaku seseorang
untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan,
terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya),
negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
|
E.
Pola Penanaman Nilai-nilai Karakter dalam Al-Qur’an
Sebagai seorang muslim tentu kita tidak bisa
melepaskan kajian karakter dan penanaman nilai karakter dari Al-Qur’an, dimana
kita telah yakini bahwa Al-Qur’an tidak saja sumber hukum Islam, tetapi lebih
dari itu ia adalah kitab karakter yang Allah Swt. tanamkan kepada para nabi dan
rasul untuk menjadi teladan bagi umat manusia dalam mendidik anak-anak/generasi
penerus mereka.
Dalam perspektif pendidikan Islam, Allah Swt
adalah pendidik alam semesta (rabb al-‘alamin) dari
kata rabb itu
pulalah kata “tarbiyah” dibentuk, roba-yarbu atau
juga rabba-yurabbi yang berarti mengembangkan, memelihara,
mendidik, menjaga. Peserta didiknya para Nabi dan Rasul serta umat manusia,
sementara media dan sarana pendidikannya adalah alam semesta, para malaikat
memerankan sebagai fasilitatorNya. Dalam Al-Quran banyak ditemukan pola-pola
yang dipakai oleh Allah Swt dalam mendidik umat manusia untuk menanamkan dan memperkokoh
karakter mereka. Istilah pola kami maksudkan sebagai strategi atau metode yang
dipakai oleh Allah untuk menyampaikan pesan sekaligus penanaman karakter pada
hambaNya. Berikut ini di antara contoh bagaimana Al-Qur’an menanamkan nilai
karakter pada umat Islam:
a) Penggunaan Strategi Discovery-Inquiry ( al-Kasyfu
wa al-Wujdan)
Salah satu
strategi penanaman nilai yang dipakai oleh Al-Qur’an adalah Discovery-inquiry
(al-wujdany) yang berarti menemukan. Proses strategi ini berawal dari
melihat, mengamati, menelaah, mempertanyakan, membandingkan, memetakan/mapping,
menyimpulkan, dan kemudian meyakini, dan
mengamalkan.
Dalam surat
al-An'am ayat 74-79[26] Allah
mengisahkan bagaimana Ibrahim As. menemukan kebenaran (tauhid) setelah
mengkaji dan membangun pemahamannya sendiri (in sight) sampai akhirnya
ia menemukan apa yang ia cari. Proses penemuan kebenaran ini bermula ketika ia
melihat fenomena terdekat yaitu patung-patung yang dibuat oleh ayahnya (Aser),
yang berlawanan dengan akal sehatnya. Akalnya mengatakan tidak mungkin
patung-patung ini memberi manfaat atau madlarat kepada manusia karena ia
ciptaannya sendiri. Ketidakpercayaan pada patung ini membuatnya berpindah ke
benda-benda angkasa yang menurut akalnya lebih "pantas" untuk menjadi
tuhan sebagai sumber kekuatan dan pengendali kehidupan.
Maka
pertama-tama ia melihat bintang-bintang yang gemerlapan di angkasa, Ibrahim
tertegun sambil menatapkan pandang sampai akhirnya ia berkesimpulan bahwa
bintang-bintang itulah tuhan yang ia cari. Namun suatu saat bintang-bintang itu
lenyap setelah munculnya bulan purnama yang sangat terang dan indah, ketika itu
sirna pulalah anggapannya pada bintang-bintang tersebut dan tatapan matanya
berpindah pada bulan, ia kagumi dan ia hayati sampai akhirnya ia berkesimpulan
bahwa bulan itulah tuhannya. Namun tak lama kemudian seiring dengan waktu, bulan
itupun lama-lama mengecil dan akhirnya hilang, bersamaan dengan itu Ibrahim
semakin ragu pada bulan dan akhirnya ia cabut keyakinannya pada bulan.
Ia kemudian
menatapkan pandangannya pada matahari yang menurut akalnya lebih besar dan
paling kuat sinarnya di antara benda-benda angkasa lainnya, dengan logika itu
ia semakin yakin bahwa matahari itulah tuhan. Namun tatkala matahari itu selalu
menghilang ketika malam tiba, maka ia juga menyangsikannya dan akhirnya ia
batalkan kepercayaannya pada matahari itu.
Pada saat
ketkutan dan kebingungan menemukan "al-Haqq" seperti itulah
akhirnya Allah Swt berkenan memberikan hidayah dan bimbinganNya pada Ibrahim lalu
ia katakan: "Sesungguhnya aku hadapkan wajahku dengan lurus kepada
pencipta langit dan bumi dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang
menyekutukanNya".
Petualangan
Ibrahim As. menemukan kebenaran (hakekat) tersebut merupakan gambaran bahwa ada
jenis karakter manusia yang harus dilatih dan dikembangkan dalam proses pendidikan dan
pembelajaran di sekolah, dalam keluarga dan di masyarakat. Karakter pada kisah
Ibrahim dan ayahnya (Aser) tersebut yang paling kuat adalah: (a) rasa ingin
tahu, (b) kreatifitas, (c) kerja keras, (d) ulet.
Aplikasinya
dalam proses pembelajaran, pendidik hendaknya selalu mengawali pembelajaran
dengan Observing (melihat dan mengamati) realitas, misalnya benda
kongkrit (aslinya atau tiruannya) untuk kompetensi sains, atau dengan mengamati
kasus sosial untuk kompetensi IPS. Dari pengamatan benda atau kasus tersebut,
siswa akan mengembangkan pada Discovering dengan melakukan questioning (pertanyaan tingkat tinggi) misalnya mengapa
bensin yang ditempat terbuka cepat habis? atau mengapa Si Jalu terlibat dalam
MIRASANTIKA? Apa akibat bagi masa depannya? Dsb. Kegiatan pembelajaran berpindah
pada Confronting yaitu adu konsep, adu argumen dengan cara
membanding-bandingkan konsep secara mendalam, mendiskusikan tentang bahayanya MIRASANTIKA
bagi kesehatan, jiwa dan pikiran serta finansial kita, membandingkan kondisi
tubuh anak yang terlibat MIRASANTIKA dengan anak-anak yang tidak terlibat atau membandingkan dengan jenis
minuman yang sehat, memetakan faktor-faktor yang menyebabkan Si Jalu terjerumus
pada tindakan tersebut, baik faktor internal maupun faktor eksternal dirinya;
faktor keluarga, sekolah dan lingkungan di masyarakat lalu berpindah pada Inquiring
yaitu proses menemukan,
menghayati, meyakini, dan
mempedomani kebenaran teori yang dipilih lalu masuk pada tahap Reflecting yaitu proses melakukan introspeksi ulang dan
evaluasi diri (self evaluation) selama ini apakah sesuai dengan
konsep/teori yang telah diyakini tadi, dan terakhir Internalizing
yaitu proses dimana konsep/teori yang baru dipelajari itu berulang-ulang
dilihat, dipikirkan, dihayati, diyakini dan diamalkan, maka jadilah itu
karakter/kepribadian anak-anak didik kita.
b) Penanaman Nilai dengan Strategi Discussion (Mujadalah)
Masih
tentang strategi pembelajaran dengan cara bertanya tingkat tinggi dan
dialog, dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 258[27] Allah Swt.
mengisahkan dialog antara Ibrahim As. dengan Namrud (Raja Babilonia). Ayat di
atas mengisahkan perdebatan Ibrahim dan Namrud tentang siapa sebenarnya yang
mempunyai kekuasaan dalam kehidupan ini. Kata Ibrahim Tuhanku bisa menghidupkan
dan mematikan manusia. Jawab Namrud: “Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan
manusia” lalu didatangkanlah oleh Namrud hamba sahaya lalu dibunuh dengan
pedangnya, Ibrahim As. lalu akhirnya mengalahkan logika Namrud ketika ia
tidak bisa merubah jalannya matahari dari timur ke barat menjadi dari barat ke
timur. Ketika itu maka "gugurlah" kepercayaan umum bahwa Namrud
adalah penguasa bumi dalam segalanya, terbukti setelah itu banyak manusia yang
mengikuti ajaran Nabi Ibrahim As.
Kisah ini
kalau dicermati dari sisi pendidikan karakter akan tampak bahwa di antara strategi penanaman
nilai karakter: berani, konsisten,
bertanggung jawab, integritas pribadi adalah dengan cara
membiasakan mujadalah (perdebatan) atau diskusi untuk
menemukan kebenaran sesuatu, sebuah model pembelajaran yang efektif untuk
diterapkan oleh para pendidik saat ini.
c) Penanaman Nilai Karakter dengan Keteladanan (Modeling,
Uswah).
Dalam surat al-Shaffat ayat 102-108[28] Allah Swt.
mengisahkan bahwa Ibrahim AS. telah melaksanakan perintahNya untuk menyembelih
puteranya (Ismail As.), ini menggambarkan proses pembelajaran bagi umat
manusia. Dalam ayat-ayat tersebut Allah Swt. menyatakan bahwa peristiwa ini
sungguh merupakan cobaan/ujian yang nyata, dan cobaan ini juga akan berlaku
bagi orang-orang yang datang kemudian, Ibrahim telah sukses menghadapi ujian
ini karena ia telah mampu mengalahkan egoismenya dengan cara melepas sesuatu
yang amat dicintai yaitu Ismail As.
Dalam peristiwa ini telah terjadi penanaman karakter keteguhan
pribadi Ibrahim As. Dalam melaksanakan tugas dan perintah Allah Swt
sehingga layak ditiru dan menjadi teladan puteranya. Dari sisi Ismail As
tertanam karakter loyal, patuh dan ulet/tabah dalam melaksanakan tugas yang berat dan menyakitkan. Karakter-karakter tersebut tidak diajarkan
tetapi langsung dipraktikkan dan dirasakan. Kisah ini juga menyadarkan kepada umat
manusia bahwa keluhuran dan ketinggian derajat kemanusiaan di mata Allah harus
dilalui melalui pengorbanan. Ini adalah bentuk pembelajaran yang kontekstual (Contextual
Teaching and Learning) dengan mempraktikkan langsung oleh pendidik dan peserta
didik .
d) Penanaman Nilai Karakter dengan Soal-Jawab (Question –
Answer)
Surat
al-Kahfi ayat 65-82[29] berisi
kisah yang panjang yang memberikan inspirasi model pembelajaran dialogis antara
Musa As. dan Khidir As. Keduanya sedang mengadakan perbincangan mengenai
"hakekat" kehidupan. Kedudukan Musa As. saat itu sebagai pembelajar
(murid) dan Khidir As. sebagai pengajarnya.
Keduanya
melakukan pembelajaran dalam kehidupan nyata dengan melakukan perjalanan
panjang. Kegiatan yang dilakukan Khidir As juga tampak aneh, membangun rumah reot
yang akan roboh, membunuh anak yang tak berdosa, dan merusak perahu dengan
melobangi dinding perahu tersebut. Alhasil, ilmu "hakekat"
akhirnya diperoleh oleh Musa As. setelah melalui proses pengamatan dan dialog
yang lama dengan Khidir As. Kisah ini sebenarnya merupakan sebuah fragmen
pembelajaran dengan mengambil bentuk bertanya dialog (Tanya-Jawab)dalam
membahas ilmu pengetahuan.
Nilai
karakter yang menonjol dalam fragmen perjalanan Musa As dan Khidir As tersebut
adalah rasa ingin tahu, kebersamaan, toleran, bertanggung jawab.
e)
Penanaman Nilai
Karakter Lewat Hukuman dan Hadiah (Reward and Punishment
Untuk
menegakkan norma dan meluruskan perilaku seseorang al-Qur'an menggunakan
hukuman sebagai salah satu metode pembelajaran. Hukuman dipilih sebagai
alternatif terakhir ketika metode-metode lain sudah diterapkan dan para peserta
didik melakukan penyelewengan/penyimpangan dari norma yang telah diketahuinya.
Hukuman bukan dimaksudkan sebagai cara untuk menyakiti peserta didik, namun
hukuman bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mereka untuk instrospeksi
dan mawas diri akan kekeliruan dan kesalahan yang telah dilakukan di masa lalu,
agar segera melakukan koreksi dan kembali ke jalan yang benar.[30]
Kaum 'Ad,
Tsamud dan kaumnya nabi Luth yang di hukum oleh Allah adalah pelajaran bagi
mereka dan bagi orang-orang yang datang kemudian untuk tetap berada pada jalan
yang benar. Hukuman/peringatan ini berlaku bagi siapa saja termasuk bagi para
kekasih Allah.
Pada sisi
yang lain Allah menampakkan begitu murah dan telah mempersiapkan hadiah bagi
hambaNya yang salih dan taat kepadaNya. Misalnya nilai sedekah dan balasan
Allah kepada orang yang bersedekah 1 akan melahirkan 7 tangkai, masing-masing
tangkai akan melahirkan 100 biji. Nilai karakter dalam hal ini adalah: disiplin,
ulet, teguh dalam pendirian.
f) Penanaman Karakter dengan Prinsip Sinergi/Keterpaduan (
learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together)
Penyatuan dalam penyebutan iman
dan amal shalih dalam al-Qur’an diulang ulang sebanyak
52 kali. Ini artinya iman sebagai simbol seperangkat teori pengetahuan yang
bersifat kognitif harus selalu diaplikasikan dalam aktifitas kongkrit berupa
kompetensi riil yang bersifat psikomotorik, dan kompetensi riil tersebut harus
bisa dimanifestasikan dalam kehidupan nyata di masyarakat dalam rangka
mewujudkan kehidupan bersama dengan damai bahagia dan sejahtera.
Itulah misi iman dan amal saleh dalam
Islam. Dari sini maka tidaklah seseorang dikatakan beriman jika ia tidak mampu
mengamalkan (mengaplikasikan) nilai-nilai imannya dalam tindakan amaliyah yang
nyata. Nabi Muhammad Saw. banyak mengingatkan sahabatnya dengan kata
"tidaklah beriman" misalnya dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim
dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak
beriman”, sahabat bertanya: “Siapa ya Rasul?” jawab beliau: “Yaitu orang yang
tetangganya tidak aman dari gangguan lisan dan tangannya” [31]
F.
Aktualisasi
Penanaman Karakter Melalui Pendidikan
Untuk menggambarkan
bagaimana aktualisasi pendidikan karakter ini di sekolah akan tampak pada bagan-bagan berikut:
(1) Bagan 1 skematika karakter
dalam keseluruhan kecakapan hidup (life skills) anak didik yang berisi
dua kelompok besar kecakapan yaitu kecakapan lunak (Soft skills) dan
kecakapan keras (Hardskills). Karakter masuk pada kelompok softs
kills. Alur penanaman karakter anak didik mengikuti pola : SEEING, KNOWING,
LOVING, DOING, HABITUING, dan
buahnya BEHAVING (Apa yang kita lihat akan kita pikirkan, apa
yang kita pikirkan akan kita katakan, apa yang kita katakan akan kita lakukan,
apa yang kita lakukan akan kita ulangi, apa yang kita ulangi akan kita
biasakan, apa yang kita biasakan itulah karakter kita).
(2) Bagan 2 tentang tata kelola sekolah/madrasah
efektif, di mana pada sekolah efektif tersebut terjadi proses penanaman
karakter dengan pola di atas dan terakhir akan terjadi habituasi/pembiasaan
nilai-nilai karakter di sekolah sehingga anak didik menjadi behaving (berkarakter).
Sekolah juga menjalin networking dengan stakeholders misalnya keluarga, tokoh
masyarakat, lembaga-lembaga sosial keagamaan, lembaga-lembaga mitra (Bank,
Kantor Pos, Polsek, Industri, dsb) untuk penanaman nilai karakter.
(3) Bagan 3 tentang tata
kelola model pembelajaran efektif, di mana pembelajaran menggunakan prinsip Active
Learning, Pembelajaran berpusat pada
siswa (Student Centered Instructional).
Guru/pendidik berfungsi sebagai stimuller (pendorong, penyedia,
dan pengatur dinamika pembelajaran).
(4) Bagan 4 tentang
pendampingan anak didik dalam melakukan tugas/demonstrasi/ praktik kecakapan
keras (hard skills) misalnya, praktik melempar cakram, lempar lembing,
parktik wudlu, tayammum, shalat janazah, shalat jamak/qasar, shalat dluha, dsb.
untuk menanmkan karakter terampil, cermat, dan religius.
G.
Khatimah
Itulah sekelumit orasi yang dapat kami sampaikan tak lupa
kami mohon maaf jika dalam tulisan ini ada yang kurang berkenan, kritik membangun,
tegur sapa selalu kami harapkan demi kesempurnaan kajian ini.
Terakhir terima kasih kami sampaikan kepada pimpinan
insitut, para pimpinan fakultas, sahabat-sahabat karib kami: pak Jazil, pak
Munawir, bu Titik, pak Junaidi, pak Saifuddin, pak Asep, bu Lisah, bu Irma, bu
Alvin, b Maunah, pak Rubaidi, pak Syafi’i, dan semua karyawan Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan (FITK) atas dorongan dan motivasi yang diberikan kepada
kami, dengan iringan do’a semoga Allah Swt membalas dengan balasan yang berlipat
ganda, Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Battistich, Victor,
Character Education, Prevention, and Positive Youth Development, University of
Missouri, St Louis, USA, 2002.
Becker, Jaques S., et
all., The Relationship of Character Education Implementation and Academic
Achievement in Elementary School, Journal of Research in Character
Education, California State University 1 (1), Fresno, 2003.
Berkowit, Marvin W.,
and Melinda C Bier, What Work in Character Education, Character
Education Partnership, Washington DC., 2005)
Backford, Katherine
M.H., and Arthur Newcomb, Analyzing Character, Gutenberg eBook, 2004)
Josephson Institute, Character
Counts, Center for Youth Ethic, USA, 2007)
Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa, Kementrian
Koordinator Kesejahteraan Rakyat., 2010.
Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007, Tentang Pendidikan Agama dan
Keagamaan
Pusat Kurikulum, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa,
Badan Litbang, Kementrian Pendidikan Nasional, 2010.
State Board of
Education, Character Education Informational Handbook and Guide for Support
and Implementation for STUDENTS Citizen Act of 2011, Character and Civic
Education, Department of Public Instruction, North Caroline, USA, 2001.
Undang-undang No. 20
Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Webber, Jonathan, Sarte’s
Theory of Character, Europe Journal of Philosophy, Blackwell Publishing
House, UK, 2006)
Winataputra, Udin s., Implementasi
Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Karakter,
Konsep, Kebijakan, dan Kerangka Programatik, Makalah Seminar di Surabaya,
2010.
Mohammad Jamaluddin
al-Qasimy, Tafsir Mahasin al- Ta’wil,
Kairo: Darul Ahya’, I, tt., hal. 8.
Tafsiran senada juga dikemukakan oleh Abu Su’ud bin Muhammad ‘Imady
al-Hanafi, Tafsir Abi Su’ud, Riyad:
Maktabah Riyad, tt, jilid 1
Abdul Fattah Jalal, Min Ushuli al-Tarbiyah fi al-Islam,
Mesir: Dar a-Kutub al-Misriyyah, 1977
Ismail Haqi al-Buruswy, Tafsir Ruhul
Bayan, Beirut: Darul Fikr, I, Juz 1
Musthafa al-Ghalayani, Idhatun
Nasyi’in, Beirut: Maktabah Ashriyyah, VI, 1949, hal. 185
Musthafa al-Maraghy, Tafsir al-Maraghy, Beirut: Darul Fikr, Jilid I.
Abdul Rahman
al-Rahlawy, Ushul al-Tarbiyah
al-Islamiyah wa Asalibuha, Beirut: Dar al-Fikr, I, 1979.
Mohammad ‘Athiyyah al-Abrasyi, Ruhu
al-Tarbiyah wa al-Ta’lim, Saudi Arabiah: Dar al-Ahya’.
Omar Mohammad Thoumy al-Syaibani, Falsafah
Pendidikan Islam, terj., Surabaya: Bina Ilmu, I, 1986.
Ahmad Fuad
al-Ahwany, al-Tarbiyah fi
al-Islam, Mesir: Dar al-Ma’arif, tt.
Ali Khalil Abu
al-‘Ainain, Falsafatu al-Tarbiyah
al-Islamiyyah fi al-Qur’an al-Karim, Beirut: Dar al-Fikr al-Araby, 1980, I.
Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis
Kompetensi: Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004 Bandung: Rosda Karya, 2004.
Syed
Mohammad Nuqaib al-Attas, Aims and Objectives of Islamic Education, Jedah:
King Abdul Aziz University, 1979.
Mohammad Munir
Mursy, al-Tarbiyah al-Islamiyyah Ushuluha
wa Tathawwuruha fi al-Bilad al-Arabiyyah, Kairo: Alam al-Kutub, 1977.
Mohammad Fadhil al-Jamali, Filsafat Pendidikan dalam Al-Qur’an, (terj.) Judial Falasani,
Surabaya: Bina Ilmu, 1986.
Mohammad
Quthub, Manhaj al-Tarbiyah al-Islamiyyah,
Kairo: Dar al-Syuruq, 1400 H, Cet. IV.
Omar Moh}ammad al-Thoumy al Syaibani, Filsafat
Pendidikan Islam, terj. (Jakarta: Bulan Bintang, 1979).
HM.
Arifin, Filsafat Pendidikan Islam,
Jakarta: Bina Aksara,I, 1987.
--------, Ilmu Pendidikan
Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasar Pendekatan Multidisipliner, Jakarta: Bina
Aksara, 1991, I, 40. Lihat pula: Second Word Conference on Muslim Education,
International Seminar on Islamic Concept and Curriculla Recommendation, 15 to
20 March 1980, Islamabad.
Webber,
Jonathan, Sarte’s Theory of Character, Europe Journal of Philosophy, Blackwell
Publishing House, UK, 2006.
Battistich,
Victor, Character Education, Prevention, and Positive Youth Development,
University of Missouri, St Louis, USA, 2002.
Blackford,
Katherine M.H., and Arthur Newcomb, Analyzing Character, Gutenberg,
eBook, 2004.
[2] Mohammad Jamaluddin al-Qasimy, Tafsir Mahasin al- Ta’wil, Kairo: Darul
Ahya’, I, tt., hal. 8. Tafsiran senada
juga dikemukakan oleh Abu Su’ud bin Muhammad ‘Imady al-Hanafi, Tafsir Abi Su’ud, Riyad: Maktabah Riyad,
tt, jilid 1, hal.19
[3]Abdul Fattah Jalal, Min Ushuli al-Tarbiyah fi al-Islam,
Mesir: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1977, hal. 7
[5] Musthafa al-Ghalayani, Idhatun Nasyi’in, Beirut: Maktabah
Ashriyyah, VI, 1949, hal. 185
[6]Musthafa al-Maraghy, Tafsir al-Maraghy, Beirut: Darul Fikr, Jilid I, hal. 30
[7] Abdul Rahman al-Rahlawy, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha,
Beirut: Dar al-Fikr, I, 1979, 13.
[8]Mohammad ‘Athiyyah al-Abrasyi, Ruhu al-Tarbiyah wa al-Ta’lim, Saudi
Arabiah: Dar al-Ahya’, hal.7
[9]Omar Mohammad Thoumy
al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, terj.,
Surabaya: Bina Ilmu, I, 1986, hal. 3
[11]Lihat:
Ali Khalil Abu al-‘Ainain, Falsafatu
al-Tarbiyah al-Islamiyyah fi al-Qur’an al-Karim, Beirut: Dar al-Fikr
al-Araby, 1980, I, hal. 37
[12]HM. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bina
Aksara,I, 1987, hal. 13-14
[13]Abdul
Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi: Konsep dan Implementasi
Kurikulum 2004 Bandung: Rosda Karya,
2004, hlm.78.
[14]Syed
Mohammad Nuqaib al-Attas, Aims and Objectives of Islamic Education, Jedah:
King Abdul Aziz University, 1979 hal.1
[15]
Mohammad Munir Mursy, al-Tarbiyah al-Islamiyyah Ushuluha wa
Tathawwuruha fi al-Bilad al-Arabiyyah, Kairo: Alam al-Kutub, 1977, hal. 18
[16]Lihat:
Mohammad Fadhil al-Jamali, Filsafat
Pendidikan dalam Al-Qur’an, (terj.) Judial Falasani, Surabaya: Bina Ilmu,
1986, hal. 3
[17]
Mohammad Quthub, Manhaj al-Tarbiyah
al-Islamiyyah, Kairo: Dar al-Syuruq, 1400 H, Cet. IV, hal. 13
[18]Omar Moh}ammad al-Thoumy al Syaibani, Filsafat
Pendidikan Islam, terj. (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 489-518.
[19]Lihat:
HM. Arifin, M. Ed., Ilmu Pendidikan
Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasar Pendekatan Multidisipliner, Jakarta: Bina
Aksara, 1991, I, 40. Lihat pula: Second Word Conference on Muslim Education,
International Seminar on Islamic Concept and Curriculla Recommendation, 15 to
20 March 1980, Islamabad.
[20]
Webber, Jonathan,
Sarte’s Theory of Character, Europe Journal of Philosophy, Blackwell
Publishing House, UK, 2006, hal. 95
[21]Battistich,
Victor, Character Education, Prevention, and Positive Youth Development,
University of Missouri, St Louis, USA, 2002, hal. 2
[22] Blackford, Katherine
M.H., and Arthur Newcomb, Analyzing Character, Gutenberg,
eBook, 2004, 25.
[23]Lihat: Pusat Kurikulum, Pengembangan Pendidikan Budaya dan
Karakter Bangsa, Badan Litbang, Kementrian Pendidikan Nasional, 2010, hal. 9
[24]lihat: Prof. Komaruddin Hidayat dalam : Kompas edisi 5 Nopember 2011
[25]Pusat Kurikulum, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa,
Badan Litbang, Kementrian Pendidikan Nasional, 2010, hal. 9-10
[26]Arti
ayat-ayat tersebut adalah: "Dan (ingatlah) waktu Ibrahim berkata kepada
bapaknya Azar: Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?,
sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata (74). Dan
demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang
terdapat) di langit dan di bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim
termasuk orang-orang yang yakin (75). Ketika malam telah menjadi gelap, dia
melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inikah Tuhanku", tetapi
tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang
tenggelam" (76). Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata:
"Inikah Tuhanku" tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata:
"Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku pastilah aku
termasuk orang-orang yang tersesat" (77). Kemudian tatkala ia melihat
matahari terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku ini yang paling besar",
ketika matahari itu terbenam dia berkata:"Wahai kaumku sesungguhnya aku
berlepas diri dari apa yang kau sekutukan"(78). Sesungguhnya aku
menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan
cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan (79)
[27]Artinya:
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim (Namrudz)
tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu
kekuasaan, ketika Ibrahim mengatakan:"Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan
mematikan", orang itu berkata: "Akulah yang menghidupkan dan
mematikan", Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari
dari timur maka terbitkanlah ia dari barat", lalu heran terdiamlah orang
kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
[28]"Maka
tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,
Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku
menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu". Ia menjawab:
"Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah kamu
akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (102). Tatkala keduanya telah berserah diri dan
Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya)
(103). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim (104), Sesungguhnya kamu
telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik" (105). Sesungguhnya ini benar-benar
merupakan ujian yang nyata (106). Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan
yang besar (107). Dan kami abadikan untuk Ibrahim itu dikalangan orang-orang
yang datang kemudian (108)
[29]Artinya:"Lalu
mereka bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami
berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya
ilmu dari sisi Kami" (65). Musa berkata kepada Khidir: "Bolehkan aku
mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu-ilmu yang telah diberikan
kepadamu?"(66)
[30] lihat; Mohammad Qutub, Manhaj al-Tarbiyah
al-Islamiyyah, (Kairo, Dar al-Shuruq, tt). hal. 233-236.
[31] Lihat; Al-Imam Abi Zakariya Yahya bin
Sharaf Al-Nawawi, Riyadu al-Salihin (Jedah: Dar al-Qublah li al-Tsaqafah
al-Islamiyyah, 1990), hlm. 152.
Komentar
Posting Komentar