PENDIDIKAN KARAKTER: KONSEP DAN AKTUALISASINYA DALAM SISTEM PENDIDIKAN ISLAM



PENDIDIKAN KARAKTER:
KONSEP DAN AKTUALISASINYA DALAM SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
Oleh: Prof. Dr. Ali Mudlofir, MAg.
                                                                          
Alhamd lillah wa al-Syukru lillah, wa al-Shalatu wa al-Salamu ‘ala Rasulillah Sayyidina Muhammad ibn ‘Abdillah wa ‘ala Alihi wa Ashabihi wa Tabi’ihi wa Man Walah.  La Haula wa la Quwwata illa bi allah. Wa ba’du .

            Yang kami mulyakan Bapak Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI (Bapak Prof. Dr. H. Nursyam, M. Si)
Yang kami mulyakan, Dewan Penyantun IAIN Sunan Ampel,
            Yang kami mulyakan,  Bapak Rektor IAIN Sunan Ampel selaku Ketua Senat,
            Yang kami mulyakan, Para Wakil Rektor IAIN Sunan Ampel,
            Yang kami mulyakan Anggota Senat  IAIN Sunan Ampel,
            Yang kami mulyakan Direktur Program Pascasarjana
            Yang kami  Para Guru Besar IAIN Sunan Ampel,
            Yang kami hormati, Para Dekan/Wakil Dekan/Kajur/Sekjur  di lingkungan IAIN Sunan Ampel,
            Yang kami hormati, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Prop. Jatim,
            Yang kami hormati, Kabid Madrasah dan PAI Kanwil Prop. Jatim
            Yang kami hormati, Kasi Mapenda Kabupaten/Kota se Jatim
            Yang kami hormati Para Pimpinan PTAIS Wilayah IV
            Yang kami hormati Direktur Bank Tabungan Negara Capem IAIN
Yang kami hormati Para Kepala Sekolah/Madrasah Mitra Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Sunan Ampel,
Yang kami hormati Para Dosen, Karyawan dan Sivitas Akademika IAIN
Yang kami hormati Bapak/Ibu/Saudara hadirin yang budiman.
                                                                                                
A.   Mukaddimah
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan Yang Maha ‘Alim, Dzat yang ilmuNya luas tak berbatas, Dzat yang seandainya seluruh air lautan menjadi tinta untuk menuliskan ilmuNya, pastilah air lautan akan habis sebelum ilmuNya selesai dilukiskan.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan pada baginda Rasulillah Muhammad Saw., keluarga, para sahabat dan pengikutnya. Nabi dan utusan Allah ini telah menampilkan diri sebagai figur guru dan pendidik sejati bagi umat manusia sepanjang masa, sekaligus merupakan miniatur Insan Kamil (pribadi paripurna) yang akan menjadi model produk lulusan pendidikan Islam bagi  umatnya.     
Majelis Senat IAIN yang terhormat!                                                                                    
Hadirin yang berbahagia!
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan sekaligus bersejarah bagi diri kami, karena Allah Swt. telah menaqdirkan kami untuk dapat mencapai puncak karir keilmuan kami secara formal, dengan penganugerahan jabatan akademik kami sebagai Guru Besar, meski kami sadar bahwa hakekatnya gelar ini hanyalah setitik air di lautan dari ilmu-ilmuNya yang amat luas.
Sebagai ungkapan rasa syukur kami, dalam kesempatan ini izinkan kami untuk mengucapkan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada:
1.      Kedua orang tua kami Bapak Hj. Mahfudh Idris dan Ibunda Hj. Siti Djariyah, Ama. (alm.) juga Bapak/Ibu mertua kami Bapak H. Turmuzi (alm.) dan Ibu Hj. Ruqayah  atas segala bimbingan dan asuhannya semenjak kecil sampai saat ini sehingga kami dapat mencapai gelar keilmuan ini.
2.      Istri kami tercinta Dra. Hj. Siti Nurul Hidayah, yang telah tekun dan setia dengan penuh kesabaran mendampingi kami meniti suka dan duka kehidupan.
3.      Anak-anak kami tercinta (AHIZ): Azma,  Husna, Ilman, Zidan yang hari-harinya selalu menyertai kami, bahkan seringkali hak mendapatkan pendampingan ayah tak terpenuhi.      
4.      Semua guru kami sejak di Madrasah Ibtidaiyyah Ma’arif Gandu, Madrasah Diniyah Sore, Madrasah Tsanawiyah/Aliyah Al-Islam Joresan semuanya berlokasi di Ponorogo,  atas fondamen ilmu pengetahuan yang beliau semua telah tanamkan pada diri kami, akhirnya kami bisa mencapai keberhasilan ini.
5.      Semua rekan dan kolega kami para dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Sunan Ampel.      
Hadirin Yang budiman!
Pada bulan Mei ini ada 2 momentum yang sangat penting bagi bangsa Indonesia, yaitu tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional dengan tokohnya Ki Hajar Dewantoro, dan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional dengan berdirinya organisasi Budi Utomo dengan tokohnya dr. Sutomo.  Dua tokoh tersebut telah memberikan contoh dan teladan yang baik dalam mendidik anak-anak bangsa ini dengan pendidikan yang berbasis karakter.
Dua momentum itulah yang mengilhami kami untuk mengangkat tema orasi dengan judul  “Pendidikan Karakter: Konsep dan Aktualisasinya dalam Sistem Pendidkkan” sekaligus kado bagi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Sunan Ampel Surabaya. 
Acapkali kita mendengar obrolan para orang tua tentang buah hatinya,  “Saya bangga  anak-anak saya sudah bisa bermain komputer”. “Heran, cepat sekali mereka menguasai cara menggunakan HP”, tetapi manakala obrolan itu berlanjut, maka pujian itu pada ujungnya bergeser menjadi keluhan dan keprihatinan. Ini tatkala mereka sudah berbincang soal sikap dan perilaku generasi  muda pada umumnya. Mereka bergumam : “Anak sekarang susah diatur, tak punya sopan santun, tak tahu etika”, orang Jawa menyebutnya “Kadok Wani Kurang Dugo”.
Banyak pihak berandai-andai, kalau saja setiap kepandaian dibarengi dengan kepribadian yang mulia tentu akan lebih indah. Andai peningkatan kecerdasan diiringi dengan kematangan mental tentu akan melegakan dada semua orangtua. Sayangnya  kini “ilmu padi” tidak laku lagi, makin berisi makin merunduk sudah tidak populer lagi. Sebagaimana lagu  Pergi Sekolah karya Ibu Sud yang sudah jarang didendangkan anak-anak. Padahal liriknya amat bermakna:…Selamat belajar nak  penuh semangat,  Rajinlah selalu tentu kau dapat, Hormati gurumu sayangi teman, Itulah tandanya kau murid budiman.
Kini menjadi budiman seolah bukan kebanggaan lagi. Padahal itulah puncak capaian pendidikan: menjadi pribadi budiman, menyayangi sesama, memiliki empati, dan berkepedulian sosial tinggi. Sudah seharusnya semakin berprestasi seseorang semakin berbudi. Sebagaimana jauh-jauh hari ditekankan oleh “Bapak” Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro, bahwa pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Undang-undang No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas juga menggariskan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa...”.

B.   Wajah Pendidikan Kita Saat Ini.
Diakui dalam berbagai aspek, pendidikan di negeri ini mengalami kemajuan. Sarana dan prasarana sekolah terus mengalami perbaikan. Peningkatan anggaran pendidikan jelas wujud nyata dari tekad Pemerintah untuk memajukan dunia pendidikan. Prestasi pelajar dan mahasiswa di berbagai ajang kompetisi nasional maupun internasional juga membanggakan. Generasi penerus itu setidaknya mampu membuat dada para orang tua mengembang bangga, karena anak-anak bangsa ini ternyata mampu berkiprah di forum internasional.
Sebagai contoh dari statemen di atas Andy Octavian Latief siswa SMAN 1 Pamekasan berhasil meraih emas di Olimpiade Fisika Internasional ke-37 di Singapura,  Firmansyah Kasim,  siswa SMP Islam Athirah Makasar juga sudah dua kali menggondol juara  Olimpiade Fisika Internasional mewakili Indonesia. Irwan Ade Putra,  Pelajar SMAN 1 Pekanbaru ini sudah dua kali meraih emas di AphO Kazakhstan dan Ipho Singapura, Olimpiade Iptek Internasional, International Sustainable World Energy, Engineering & Environment Project Olympiad,  (I-SWEEEP) 2012 diselenggarakan di Houston, Amerika Serikat pada 3 – 6 Mei 2012.  Banyak siswa Indonesia yang menang dalam ajang ini.  
Enam siswa dari Indonesia memboyong medali perak dan perunggu.
Duet Dwi Astuti dan Tisa Mahdiansari dari SMA Al-Kautsar, Lampung, meraih medali perunggu pada kategori Lingkungan Hidup. Penelitian mereka berjudul “The Utilization of Dry Field By Using Trickle Irrigation Method With Coconut Fiber As Emitter”.  
Jonathan Pradana Mailoa dari SMAK 1 PENABUR Jakarta mampu meraih medali emas dan Absolute Winner Olympiade Fisika Internasional tahun 2006 di Singapura. Oki Novendra, siswa Kelas X SMAN I Bogor  mampu menganalisis misteri kematian penyanyi Michael Jackson dengan rumus matematika. Teorinya mampu mengantar dia merebut medali emas International Conference Young Scientist. Juga muncul nama Susanto Mega Ranto sebagai grand master catur termuda di Indonesia. Mereka memberi bukti nyata bahwa sebetulnya sumber daya manusia kita mampu berjaya bilamana kita bersungguhsungguh mengupayakannya. Kita bukan bangsa kuli atau inlander bodoh sebagaimana stempel yang ditempelkan kepada kita selama ratusan tahun oleh penjajah.[1]
Di sela-sela prestasi gemilang tersebut di atas, memang harus diakui masih terpampang sisi buram dari mereka. Jumlah kaum muda pengguna narkoba masih mencemaskan. Informasi dari Balai Diklat Badan Narkotika Nasional (BNN), terdapat sekitar 3,6 juta pecandu narkoba di Indonesia yang melibatkan kaum muda. Kekerasan juga banyak mewarnai dunia anak bangsa ini. Kekerasan pada saat masa orientasi siswa (MOS) masih saja terjadi. Oknum kepala sekolah menempeleng siswa, siswa mengeroyok guru, hingga guru BK mengadu dua siswanya untuk berkelahi di halaman sekolah. Tawuran antar pelajar di jalanan tetap menjadi pemandangan yang biasa di mass media.
Geng perempuan ramai-ramai menghajar lawan gengnya di lorong sekolah. Dari sisi susila juga banyak fakta yang membuat para orang tua mengelus dada. Longgarnya pergaulan pria wanita membuat remaja kebablasan. Angka aborsi di kalangan remaja masih tinggi. Kondisi sosial yang semakin permisif,  minimnya sanksi sosial, membuat mereka gampang melanggar susila.
Dekadensi moral, rendahnya tanggung jawab dan sikap amanah, dipertontonkan secara kasat mata di depan publik. Betapa banyak pejabat publik yang diseret kemeja hijau gara-gara menelan uang rakyat. Pada bulan Maret 2010, lembaga survey yang bermarkas di Hongkong yaitu Political & Economic Risk Consultancy (PERC) masih menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup di Asia Pasifik, mengalahkan posisi Kamboja, Vietnam, dan Filipina.
Kejujuran, telah menjadi barang langka karena banyak sekolah telah mengajarkan kecurangan. Kecurangan diperagakan secara “sembunyi-sembunyi” tapi massal pada saat pelaksanaan Ujian Nasional (UN) berlangsung. Tetapi syukurlah, Kementerian Pendidikan Nasional terus berupaya memperbaiki sistem dan mekanisme Ujian Nasional, sehingga kecurangan secara bertahap dapat dieleminasi. Kini di mana-mana juga berkembang tekad untuk kembali ke jalan yang benar melalui penandatanganan pakta kejujuran.
Disiplin dan tertib berlalu lintas, budaya antri, budaya baca, hingga budaya bersih bangsa ini juga masih jauh di bawah standar. Kebanggaan  terhadap jati diri dan kekayaan budaya sendiri juga masih rendah. Sebagai bangsa, agaknya kita masih saja mengidap “minder kolektif”, terbukti masih suka tergila-gila dan melahap tanpa seleksi terhadap segala produk dan budaya asing.
Dengan potret buram dan profil realitas anak-anak bangsa seperti itu wajar jika Mendikbud Mohammad Nuh gelisah. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam banyak kesempatan berharap agar jajaran menterinya membuat langkah serius untuk mengatasi masalah-masalah itu. Mengapa pendidikan belum mampu mengubah perilaku menjadi lebih baik? Mengapa kejujuran, komitmen, keuletan, kerja keras, hingga kesalehan seolah lepas dari persoalan pendidikan.
Kita semua –khususnya para pendidik- wajar merenung dan bertanya ulang: bagaimana karakter bangsa ini? Atau dalam pertanyaan yang lebih konseptual tapi bernada waswas: bagaimana masa depan Indonesia bila generasi penerusnya tidak memiliki karakter dan jati diri? Pembangunan watak (character building) amat penting. Kita ingin membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan berperilaku baik. Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban itu dapat kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik (good society).
Sudah saatnya dibangun kembali kesadaran akan pentingnya pembinaan karakter bagi insan Indonesia. Topik character building memang mulai mengemuka akhir-akhir ini. Berbagai pelatihan secara sporadis dilakukan untuk para eksekutif, pendidik, karyawan perusahaan dalam bentuk outbound maupun workshop. Tentu itu aktivitas itu bagus, tapi belumlah cukup. Perlu ada upaya bersama, sistemik, dan terpadu agar pendidikan karakter menjadi efektif dan bergaung. Gerakan Nasional.
 Demi menjawab kegelisahan itu, Kementerian Pendidikan Nasional menggelar acara ”Sarasehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” di Hotel Bidakara Jakarta pada 14 Januari 2010. Para pakar pendidikan, tokoh masyarakat, budayawan, rohaniwan, akademisi, birokrat, praktisi, pengelola pendidikan, dan pihak lain  hadir dalam acara tersebut. Pada akhir sarasehan disepakati komitmen pendidikan budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan secara komprehensif sebagai proses pembudayaan.
Oleh karena itu, pendidikan dan kebudayaan secara kelembagaan perlu diwadahi secara utuh, dan “tugas besar” ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, sekolah, dan orang tua. Acara sarasehan tersebut kemudian ditindaklanjuti tim khusus dengan melakukan pertemuan-pertemuan intensif untuk menggodok rancangan desain induk (grand design) pendidikan karakter yang dilengkapi panduan pada setiap satuan pendidikan  beserta rancangan pelaksanaannya sebagai sebuah gerakan nasional.
Presiden RI lalu mencanangkan pelaksanaan Gerakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa pada Puncak Peringatan Hardiknas 2010. Istilah yang digunakan menjadi pembangunan karakter, bukan lagi pendidikan karakter, sebab gerakan ini ternyata tidak hanya didukung oleh Kementerian Pendidikan Nasional saja, tetapi meluas lintas kementerian yang meliputi Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Politik Hukum dan Keamanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, Kementerian Keuangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perhubungan dan Pariwisata,  Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta Kementerian Peranan Wanita dan kementerian lain terkait. Munculnya Gerakan Nasional ini merupakan ungkapan batin bahwa sebenarnya pendidikan bangsa kita kini sedang sakit, pendidikan di negeri kita kini sedang tersesat,  pendidikan bangsa kita kini sedang kehilangan arah, ada mustika yang hilang dari pendidikan kita.
Sasaran gerakan ini adalah seluruh pemangku kepentingan/ lintas kementerian demi terbangunnya karakter bangsa yang kokoh. Khusus di bidang pendidikan, fokus utamanya adalah pada sekolah (peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan), keluarga (anak, orangtua, saudara, pembantu), masyarakat (orang-orang di sekitar peserta didik), dan lingkungan.
Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, ke depan pemerintah memasukkan pendidikan karakter melalui penguatan kurikulum mulai dari tingkat satuan pendidikan terendah hingga perguruan tinggi sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional. Namun perlu ditegaskan tidak akan ada penambahan mata pelajaran tersendiri. Pendidikan karakter diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, di samping lewat pembiasaan dalam budaya sekolah, juga melalui ko-kurikuler dan ektrakurikuler, serta melibatkan partisipasi lingkungan, keluarga, dan masyarakat.
Karakter dan pendidikan karakter bangsa sejatinya bukan masalah baru bagi bangsa Indonesia, bukankah bangsa ini sejak masa-masa jauh sebelum kemerdekaan sudah dikenal dengan bangsa yang ramah, bangsa yang menghargai adat ketimuran,  dahulu  di sekolah-sekolah ditanamkan pendidikan budi pekerti, pendidikan etiket, pendidikan sopan-santun (Toto Kromo Jw), dan sejenisnya, namun mengapa tiba-tiba seperti ada petir di siang hari bangsa Indonesia –khususnya dunia pendidikan- terhentak dengan issu pendidikan karakter? Apakah selama ini dunia pendidikan kita tidak melakukannya? Lalu apa yang ditanamkan oleh sekolah-sekolah pada anak-anak didiknya selama 16 tahun pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi? Sisi manakah dari potensi anak-anak didik kita yang telah kita lupakan dan kita abaikan? Mengapa sekolah-sekolah kita terkesan mengabaikan dengan hal-hal demikian?.
Sekolah-sekolah di negeri ini telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang selama ini dimiliki dan dijunjung tinggi sebagai warisan leluhur, sekolah-sekolah lebih sibuk dengan sisi akademik agar siswa mendapat nilai tinggi. Keberadaan pembelajaran nilai-nilai moral dan karakter terabaikan. Nilai-nilai luhur warisan nenek moyang telah dianggap basi. Wejangan-wejangan lewat kata-kata mutira Ki Hajar Dewantoro telah dimusiumkan, semisal filosofi Sistem Among : “Ing Ngarso Asung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Andayani”,  bukankah ini telah mengajarkan karakter keharusan pemberian keteladanan dari para pemimpin, karakter pembakar semangat dalam sebuah team work, dan karakter  loyalitas pada pemimpin timnya .
 Juga Pepatah Jawa “Ajining Sariro Soko Busono, Ajining Diri Soko Lati” ini mengajarkan karakter menjaga performan dan menjaga lidah dari perkataan kotor dan bohong. Juga Nasehat : “Pasir Wukir Gemah Ripah Loh Jinawe, Toto Tentrem Kerto Raharja, Crah Agawe Bubrah Rukun Agawe Santoso,  kalimat-kalimat ini sarat dengan karakter menjaga dan melestarikan lingkungan , menjaga persatuan dan kesatuan, menaati kedisiplinan, menghindari perpecahan dan percekcokan. Juga slogan: “Ojo Dumeh, Ojo Adigang Adigung Adiguno” yang telah menanamkan karakter toleran dan menghargai orang lain.
Slogan bahasa Jawa yang lain: “Nglurug Tanpo Bolo, Sugih Tanpo Bondo, Menang Tanpo Ngasorake” slogan ini telah menanamkan nilai/karakter kemandirian, kesederhanaan dan menghargai orang lain. Juga: “Melu Handarbeni, Melu Hangrungkepi Mulat Sariro Hangroso Wani” yang telah dengan nyata-nyata menanamkan karakter cinta tanah air dan karakter kebersamaan.
 Lagu Indonesia Raya yang setiap saat dikumandangkan mestinya memberikan  dampak pada penanaman nilai-nilai karakter: “Bangunlah Jiwanya…….Bangunlah badannya……” jelas membangun jiwa terlebih dahulu baru membangun raga dan intelektualnya, namun sayang lagu itu umumnya hanya hafalan verbal yang tak membekas pada diri pendidik dan anak didiknya.    
Dahulu waktu kami masih di sekolah dasar sering melihat tulisan-tulisan dan slogan-slogan yang bernilai penanaman karakter tertulis di dinding-dinding kelas, halaman sekolah, di pagar-pagar rumah warga, di kantor-kantor kelurahan/kecamatan, dan di sentra-sentra public lainnya. Namun sekarang hal demikian tidak banyak kita jumpai lagi, sekolah-sekolah lebih mempromosikan hasil kejuaraan olimpiade, hasil UNAS, lomba ini dan lomba itu, yang umumnya bersifat intelektualitas dan akademis, sehingga tidak ada lagi tersisa ruang, papan dan dinding untuk menuliskan mutiara-mutiara hikmah dan wejangan para leluhur (funding futhers). Pada sisi yang lain, juga muncul keinginan kuat agar pendidikan nasional mampu melahirkan generasi bangsa Indonesia yang jujur, berkarakter dan berdaya saing tinggi.
  Mengejar prestasi akademis mamang harus, namun melupakan dan mengabaikan nilai-nilai karakter dan moral merupakan kesalahan vatal, itulah akar penyebab kehancuran bangsa. Penyair Arab mengatakan: “Innama al Umamu al-Akhlaqu ma Baqiyat, wa in Hum Dzahabat Akhlaquhum Dzahabu” (Sesungguhnya suatu bangsa itu akan tetap kokoh dan eksis selama penghuninya berakhlak dan berkarakter, jika akhlak dan karakternya hilang, maka robohlah bangsa itu).   
Apa yang terjadi di Indonesia ini, sebenarnya juga terjadi di negara-negara lain. Profesor S. Shapiro dari University of North Carolina meninjau kembali situasi pendidikan di Amerika dalam Losing Heart: The Moral and Spiritual  Miseducation of America’s Children. Ia menyaksikan sekolah-sekolah yang bersaing keras satu sama lain demi mencapai kualifikasi tertinggi sesuai dengan alat ukur yang ditetapkan pemerintah;  ruang-ruang kelas yang lebih mirip pabrik untuk memproduksi sumber daya manusia yang akan dijual di pasar tenaga kerja; guru-guru yang sibuk mempersiapkan, melaksanakan, dan memeriksa hasil tes yang makin lama makin canggih; para siswa yang mengarahkan seluruh perhatiannya untuk lulus dalam tes-tes itu dengan ukuran dan kelulusan yang makin lama makin berat; orangtua yang memberikan wejangan “Belajarlah yang rajin, dapatkan nilai yang tinggi”, bukan lagi “Belajarlah yang rajin, jadilah murid yang budiman ”.
Pendidikan sudah berubah menjadi sekadar bersekolah. Guru tidak lagi mendidik,  ia hanya mengajar.  Murid tidak lagi tumbuh pribadi dan karakternya ia hanya tambah pengetahuannya. Suasana sekolah yang menyenangkan, menggairahkan dan mengesankan telah digantikan oleh situasi yang menegangkan, melumpuhkan, dan membosankan. Dari sekolah-sekolah telah  keluar orang-orang yang mengubah kearifan menjadi informasi, masyarakat menjadi pasar, agama menjadi komoditas, politik menjadi rekayasa, dan kesetiakawanan menjadi nepotisme.
Semuanya itu terjadi karena pendidikan telah kehilangan jiwanya, telah dilepaskan dari esensinya. “Education worthy of the name is essentially education of character,” kata Martin Buber. Tujuan pembelajaran ialah menghasilkan pelajar yang lulus dalam ujian sekolah, sementara tujuan pendidikan ialah menghasilkan anak didik yang lulus dalam ujian kehidupan. Hasil belajar adalah pengetahuan. Hasil pendidikan adalah karakter. “The dimensions of character are knowing, loving, and doing the good,” kata Thomas Lickona. Saya yakin bahwa para pendidik bangsa ini dahulu mendirikan sekolah agar anak-anak didik mereka mengetahui yang baik, mencintai yang baik, dan mengamalkan yang baik.
         

C.   Hakekat dan Tujuan Akhir Pendidikan dalam Islam

Muhammad Jamaluddin Al-Qasimy dalam menjelaskan makna al-Tarbiyah  adalah: proses menghantarkan seseorang (anak didik) sampai pada batas kesempurnaan yang dilakukan secara tahap demi tahap”.[2]
Abdul Fattah Jalal, bahwa hakekat pendidikan Islam adalah proses persiapan dan pemeliharaan anak didik pada masa kanak-kanak.[3] Pandangan ini diambil dari maksud surat al-Isra’: 24 dan surat al-Syu’ara’: 18 dimana pendidikan masa kanak-kanak akan sangat menentukan pribadi seseorang dimasa tuanya.
Ismail Haqi al-Buruswy memberikan arti pendidikan Islam dengan proses pengembangan pikiran dengan berbagai kecerdasan, bimbingan jiwa dengan hukum-hukum syari’ah, pengembangan hati nurani dengan nilai-nilai kasih sayang dan etika kehidupan.[4]      
Musthafa al-Ghalayani memberikan pandangan tentang hakekat pendidikan adalah penanaman etika yang mulia pada jiwa anak yang sedang tumbuh dan berkembang dengan cara memberikan petunjuk dan nasehat, sehingga ia memiliki potensi-potensi dan kompetensi-kompetensi yang mantap yang dapat membuahkan sifat-sifat bijak, cinta akan kreasi dan berguna bagi tanah airnya.[5]  
Musthafa al-Maraghy mengemukakan visinya tentang esensi pendidikan adalah pembinaan dan pengembangan jasad, jiwa dan akal manusia dengan berbagai petunjuk berdasar wahyu untuk mencapai kesucian dan kesempurnaan.[6]
Al-Ashfahany mengemukakan hakekat pendidikan dalam Islam adalah proses menumbuhkan sesuatu secara bertahap yang dilakukan setapak demi setapak sampai pada batas kesempurnaan.[7]
Athiyyah al-Abrasyi berpendapat bahwa hakekat pendidikan Islami adalah upaya mempersiapkan individu untuk kehidupan nyata yang lebih sempurna berisikan kekuatan raga, ketajaman berpikir, kesempurnaan etika, giat dalam berkreasi, toleran pada yang lain.[8]
Prof. Dr. Omar Mohammad Thoumy al-Syaibani mengartikan pendidikan sebagai proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya dengan cara pengajaran sebagai aktifitas asasi dan sebagai profesi asasi dai antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.[9]
Ahmad Fuad al-Ahwany mengartikan pendidikan Islam sebagai: “Nidzam al-ijtima’i  yanba’u min falsafati kulli umatin wa huwa al-ladzi yathbiqu hadzihi al-falsafah au yubrizuha ila al-wujud”[10]
Ali Khalil Abu al-‘Ainain mendeskripsikan pendidikan Islam sebagai:
al-Amaliyyah al-ijtima’iyyah wahiya takhtalifu min mujtama’ li akhara hasba thabi’ati dzalika al-mujtama’ wa quwa al-falsafah al-mutaatsirah fihi, bi al-idlafah ila al-qiyam al-ruhiyyah wa al-falsafah al-laty ikhtaraha wa irtadlaha litaisiri alaiha hayatuha, wa makna dzalika anna al-tarbiyah tasytaqqu ahdafuha min ahdaf al-mujtama’ wa tuhaddidu khatwuha libulughi tilka al-ahdaf wa haula tilka al-ahdaf taduru falsafatuha, wa min tsamma takhtalifu falsafatu al-tarbiyah min mujtama’  ila akhara bi ikhtilaf al-dhuruf al-mukhithah bi kulli mujtama’ wa falsafatuha al-laty tashilu ilaiha limuwajahati tilka al-dzuruf. [11]
      
Dalam seminar Pendidikan Islam se-Indonesia Tahun 1960 disepakati hakekat pendidikan Islam adalah “Bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani individu sesuai dengan ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya ajaran Islam pada dirinya”.[12] Pengertian tersebut mengandung arti bahwa dalam proses pendidikan Islam terdapat usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui tahapan setingkat demi setingkat menuju tujuan yang ditetapkan yaitu menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran, sehingga terbentuklah manusia yang berkepribadian dan berbudi luhur sesuai dengan ajaran Islam.  
Adapaun tujuan akhir pendidikan Islam menurut Abdurrahman al-Nahlawi sebagaimana dikutip oleh Abdul Majid menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam yaitu memurnikan ketaatan dan peribadatan hanya kepada Allah. Maka karenanya kurikulum pendidikan Islam yang disusun harus menjadi landasan kebangkitan Islam baik dalam aspek intelektual, pengalaman, fisik maupun sosial.[13]
Nuqaib al-Attas mengemukakan tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang baik. [14] Sedangkan Atiyyah al-Abrasyi dan Munir Mursy menyetujui pendapat Al-Ghazali bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah kesempurnaan manusia (al-kamalah al-insaniyyah).[15]
Mohammad Fadhil al-Jamali merumuskan tujuan akhir pendidikan Islam dengan empat macam: (1) mengenalkan manusia akan perannya di antara sesama makhluk dan tanggung jawabnya dalam hidup ini, (2) mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tanggung jawabnya dalam tata hidup bermasyarakat, (3) mengenalkan manusia akan alam dan mengetahui hikmah diciptakannya serta mengambil manfaat dari padanya, (4) mengenalkan manusia akan pencipta alam Allah Swt. dan tatacara beribadah kepadaNya.[16] 
Mohammad Quthub berpendapat bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah kesempurnaan manusia secara pribadi atau kelompok yang mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifahNya guna membangun dunia/alam sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh Allah.[17] Ciri-cirinya mengedepankan prinsip-prinsip berikut:
(1)   Al-Syumuliyah (universal) antara aspek aqidah, ibadah, akhlak dan muamalah.
(2)   Al-Tawazun (keseimbangan)antara aspek pribadi, komunitas dan kebudayaan.
(3)   Al-Tabayun (kejelasan) fungsi dan karakteristik berbagai aspek kejiwaan manusia (qalb, ‘aql, dan nafs).
(4)   At-Tanasub (keterkaitan) antara berbagai aspek tersebut dan tidak saling bertentangan.
(5)   Al-Waqi’iy (realistik) dapat dilaksanakan dan tidak berlebih-lebihan.
(6)   Al-Taqaddumy (dinamis) dapat menerima perubahan sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi masyarakat.
(7)   Al-Kamal al-Insaniy (kesempurnaan manusia) yaitu selalu mengedepankan visi dan misi menggapai kesempurnaan pribadi muslim.
Menurut Omar Mohammad al-Taoumy Al-Shaibani: bahwa tujuan akhir pendidikan Islam harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) menonjolkan pendidikan agama dan akhlak, (2) mempertimbangkan pengembangan menyeluruh dari pribadi siswa, jasmani akal dan rohani, (3)mempertimbangkan keseimbangan pribadi dan masyarakat, dunia dan akhirat, (4)memperhatikan seni, pahat, ukir, tulisan indah, gambar dsb., (5)memperhatikan perbedaan kebudayaan dan perbedaan individu.[18]
Tujuan akhir Pendidikan Islam menurut rumusan Konferensi Pendidikan Islam sedunia ke 2 tahun 1980 di Islamabad:
Education should aim at the balanced growth of total personality of man throught the training of man’s spirit, intellect, the rational self, feeling and bodily sense. Education therefore cater for the growth of man in all its aspect, spiritual, intellectual, imaginatives, physical, scientific, and linguistic both individually and collectively and motivate all these aspects toward goodness and attainment of perfection. The ultimate aim of education lies in the realization of complete submission to Allah on the level individual, the community and humanity at large.[19] 

Berdasar kajian hakekat pendidikan Islam dan tujuan akhir yang akan dicapai siswa dalam proses pendidikan Islam sebagaimana dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang sangat mengedepankan karakter dan bahkan pendidikan Islam adalah pendidikan yang berbasis dan bersendikan karakter. Ini karena Islam sendiri adalah ajaran karakter,  misi kedatangan Nabi Muhammad Saw. untuk menyempurnakan akhlak dan budi pekerti yang mulia, Innama bu’ithtu li utammima makarima al-akhlaq. Hanya persoalannya mengapa lembaga-lembaga pendidikan Islam saat ini juga banyak yang melupakan misi dan karakteristik tersebut?, mengapa banyak dari madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah Islam telah larut dalam arus globalisasi dengan meninggalkan ciri khas/karakteristik misi Islam?. Di sinilah letak pentingnya kita menyadari bahwa banyak lembaga kita sedang sakit, karena kehilangan ruhnya, itulah pendidikan karakter.
                                                                                                         
D.    Apa Makna Karakter?
Aristoteles menyebut pengertian karakter yang baik adalah kehidupan berperilaku baik dan penuh kebajikan, berperilaku baik terhadap pihak lain Tuhan Yang Maha Esa, manusia, alam semesta dan terhadap diri sendiri. Jonathan Webber dalam Journal of Philosophy menjelaskan bahwa karakter adalah akumulasi dari berbagai ciri yang muncul dalam cara berfikir, merasa dan bertindak[20] (Webber, 2006: 95). Sikap pemberani atau pengecut seseorang dalam menghadapi bahaya, sikap ketakutan dalam menghadapi orang banyak, merupakan contoh-contoh sederhana tentang karakter seseorang.
Demikian pula rumusan yang dikemukakan Victor Battistch dari Universitas Missouri St. Louis, dalam salah satu tulisannya berjudul Character Education, Prevention and Positive Youth Development, menegaskan bahwa karakter adalah konstelasi yang sangat luas antara sikap, tindakan, motivasi dan ketrampilan. Karakter mencakup sikap, tindakan, cara berfikir, dan respon terhadap ketidakadilan, interpersonal dan emosional, serta komitmen untuk melakukan sesuatu bagi masyarakat, bangsa dan negaranya[21].  Sebagaimana Webber, Battistich juga melihat, karakter selalu dihadapkan pada dilema antara baik buruk, dilakukan atau tidak dilakukan oleh seseorang. Melakukan yang baik berarti berkarakter baik dan ideal, sebaliknya melakukan yang buruk berarti berkarakter buruk.
Sejalan dengan keduanya, Katherine M.H, Blackford dan Arthur Newcomb, dalam tulisannya tentang Analyzing Character menekankan tentang karakter seseorang yang senantiasa berlawanan secara diametral antara baik dan buruk. Akan tetapi, Katherine menegaskan bahwa orang-orang yang berkarakter yang bisa diharapkan akan bisa maju dan akan mampu membawa kemajuan adalah mereka yang memiliki ciri-ciri pokok, yakni, kejujuran, bisa dipercaya, setia, bijaksana, penuh kehati-hatian, antusias, berani, tabah, penuh integritas dan bisa diandalkan[22]. Karakter terdiri dari tiga unjuk perilaku yang saling berkaitan yaitu: (1) tahu arti kebaikan, (2) mau berbuat baik, dan (3) nyata berperilaku baik.  Ketiga substansi dan proses psikologis tersebut bermuara pada kehidupan moral dan kematangan moral individu. Dengan kata lain, karakter dapat dimaknai sebagai kualitas pribadi yang baik.
Menurut dokumen Desain Induk Pendidikan Karakter terbitan Kementerian Pendidikan Nasional, pendidikan karakter didefinisikan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengambil keputusan yang baik, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.[23] Yang jelas pendidikan karakter selayaknya dikembangkan dengan pendekatan terpadu dan menyeluruh.
Efektivitas pendidikan karakter tidak selalu harus dengan menambah program tersendiri, melainkan bisa melalui transformasi budaya dan kehidupan di lingkungan sekolah. Melalui pendidikan karakter semua berkomitmen untuk menumbuhkembangkan peserta didik menjadi pribadi utuh yang menginternalisasi kebajikan (tahu, mau), dan eksternalisasi kebajikan berupa terbiasa mewujudkan kebajikan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Hingga saat ini, secara kurikuler telah dilakukan berbagai upaya untuk menjadikan pendidikan lebih bermakna bagi individu, tidak sekadar memberi pengetahuan (kognitif), tetapi juga menyentuh tataran afektif dan psikomotor melalui mata pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Indonesia, dan Olahraga. Namun harus diakui semua itu belum mampu mewadahi pengembangan karakter secara dinamis dan adaptif terhadap pesatnya perubahan. Oleh karena itu pendidikan karakter perlu dirancang-ulang dalam wadah yang lebih komprehensif dan lebih bermakna. Pendidikan karakter perlu direformulasikan dan direoperasionalkan melalui transformasi budaya dan kehidupan satuan pendidikan.
Secara kejiwaan dan sosial budaya pembentukan karakter dalam diri seseorang merupakan fungsi dari seluruh potensi individu (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosiokultural (dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dapat dikelompokan dalam olah hati (spiritual and emotional development), olah pikir (intellectual development), olah raga dan kinestetik (physical and kinestetic development), serta olah rasa dan karsa (affective, attitude and social development). Keempat proses psikososial tersebut secara terpadu saling berkait dan saling melengkapi, yang bermuara pada pembentukan karakter yang menjadi perwujudan dari nilai-nilai luhur.
Apakah karakter identik dengan agama?, ada persamaan-persamaan dan juga ada perbedaan antara keduanya. Persamaannya keduanya sama-sama berbicara mengenai baik-buruk, sama-sama berbicara mengenai moral dan kebajikan, namun sumbernya berbeda, agama jelas bersumber dari kitab suci, baik dan buruk bersumber dari kitab suci, sementara karakter sumbernya akal, budaya dan peradaban manusia.
Diskursus tentang karakter dan agama ini, patut dicermati dan direnungkan hasil penelitian Scherazade S. Rehman dan Hossein Askari yang disitir oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. Dikatakan bahwa negara dengan dominan Muslim sering tidak Islami. Begitulah kesimpulan artikel Komaruddin Hidayat di harian Kompas. Tulisan Komaruddin ini mengulas sebuah hasil penelitian sosial bertema “How Islamic are Islamic Countries,” Penelitian itu, dengan metodologi yang juga dijelaskan Komaruddin, membuktikan Selandia Baru adalah negara yang paling islami di antara 208 negara.
Tulisan itu hendak menyampaikan betapa pentingnya kesalehan sosial dalam peri kehidupan sehari-hari. “…yang dimunculkan oleh Rehman dan Askari bukan semarak ritual, melainkan seberapa jauh ajaran Islam itu membentuk kesalehan sosial berdasarkan ajaran Al- Quran dan hadis,”. Riset itu menyimpuklan, bahwa perilaku sosial, ekonomi, dan politik negara-negara anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam) justru berjarak lebih jauh dari ajaran Islam dibandingkan negara-negara non-Islam. Hal itu seolah mengamini pernyataan ulama Muhammad Abduh setelah kunjungannya ke Eropa: “Saya melihat Islam di Eropa, tetapi kalau orang Muslim banyak saya temukan di dunia Arab.”[24]
Kemendikbud telah mengintrodusir 18 macam inti karakter dalam desain induk yang akan dikembangkan pada semua kegiatan pendidikan dan pembelajaran serta penciptaan suasana yang kondusif di sekolah, yaitu:[25]
No
Nilai/Inti Karakter
Deskripsi
01
Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

02
Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

03
Toleran
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya

04
Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan

05
Kerja keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

06
Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki

07
Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas

08
Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain

09
Rasa ingin tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10
Semangat kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan dari kelompoknya

11
Cinta tanah air
Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

12
Meghargai prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13
Bersahabat/komunikatif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

14
Cinta damai
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya

15
Gemar membaca
Kebiasan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya

16
Peduli lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi

17
Peduli sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan

18
Tanggung jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
                                                                                     
E.   Pola Penanaman Nilai-nilai Karakter dalam Al-Qur’an
Sebagai seorang muslim tentu kita tidak bisa melepaskan kajian karakter dan penanaman nilai karakter dari Al-Qur’an, dimana kita telah yakini bahwa Al-Qur’an tidak saja sumber hukum Islam, tetapi lebih dari itu ia adalah kitab karakter yang Allah Swt. tanamkan kepada para nabi dan rasul untuk menjadi teladan bagi umat manusia dalam mendidik anak-anak/generasi penerus mereka.
Dalam perspektif pendidikan Islam, Allah Swt adalah pendidik alam semesta (rabb al-‘alamin) dari kata rabb itu pulalah kata “tarbiyah” dibentuk, roba-yarbu atau juga rabba-yurabbi  yang berarti mengembangkan, memelihara, mendidik, menjaga. Peserta didiknya para Nabi dan Rasul serta umat manusia, sementara media dan sarana pendidikannya adalah alam semesta, para malaikat memerankan sebagai fasilitatorNya. Dalam Al-Quran banyak ditemukan pola-pola yang dipakai oleh Allah Swt dalam mendidik umat manusia untuk menanamkan dan memperkokoh karakter mereka. Istilah pola kami maksudkan sebagai strategi atau metode yang dipakai oleh Allah untuk menyampaikan pesan sekaligus penanaman karakter pada hambaNya. Berikut ini di antara contoh bagaimana Al-Qur’an menanamkan nilai karakter pada umat Islam:

a)     Penggunaan Strategi Discovery-Inquiry ( al-Kasyfu wa al-Wujdan)
Salah satu strategi penanaman nilai yang dipakai oleh Al-Qur’an adalah Discovery-inquiry (al-wujdany) yang berarti menemukan. Proses strategi ini berawal dari melihat, mengamati, menelaah, mempertanyakan, membandingkan, memetakan/mapping, menyimpulkan, dan kemudian  meyakini, dan mengamalkan.
Dalam surat al-An'am ayat 74-79[26] Allah mengisahkan bagaimana Ibrahim As. menemukan kebenaran (tauhid) setelah mengkaji dan membangun pemahamannya sendiri (in sight) sampai akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Proses penemuan kebenaran ini bermula ketika ia melihat fenomena terdekat yaitu patung-patung yang dibuat oleh ayahnya (Aser), yang berlawanan dengan akal sehatnya. Akalnya mengatakan tidak mungkin patung-patung ini memberi manfaat atau madlarat kepada manusia karena ia ciptaannya sendiri. Ketidakpercayaan pada patung ini membuatnya berpindah ke benda-benda angkasa yang menurut akalnya lebih "pantas" untuk menjadi tuhan sebagai sumber kekuatan dan pengendali kehidupan.
Maka pertama-tama ia melihat bintang-bintang yang gemerlapan di angkasa, Ibrahim tertegun sambil menatapkan pandang sampai akhirnya ia berkesimpulan bahwa bintang-bintang itulah tuhan yang ia cari. Namun suatu saat bintang-bintang itu lenyap setelah munculnya bulan purnama yang sangat terang dan indah, ketika itu sirna pulalah anggapannya pada bintang-bintang tersebut dan tatapan matanya berpindah pada bulan, ia kagumi dan ia hayati sampai akhirnya ia berkesimpulan bahwa bulan itulah tuhannya. Namun tak lama kemudian seiring dengan waktu, bulan itupun lama-lama mengecil dan akhirnya hilang, bersamaan dengan itu Ibrahim semakin ragu pada bulan dan akhirnya ia cabut keyakinannya pada bulan.
Ia kemudian menatapkan pandangannya pada matahari yang menurut akalnya lebih besar dan paling kuat sinarnya di antara benda-benda angkasa lainnya, dengan logika itu ia semakin yakin bahwa matahari itulah tuhan. Namun tatkala matahari itu selalu menghilang ketika malam tiba, maka ia juga menyangsikannya dan akhirnya ia batalkan kepercayaannya pada matahari itu.
Pada saat ketkutan dan kebingungan menemukan "al-Haqq" seperti itulah akhirnya Allah Swt berkenan memberikan hidayah dan bimbinganNya pada Ibrahim lalu ia katakan: "Sesungguhnya aku hadapkan wajahku dengan lurus kepada pencipta langit dan bumi dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang menyekutukanNya".
Petualangan Ibrahim As. menemukan kebenaran (hakekat) tersebut merupakan gambaran bahwa ada jenis karakter manusia yang harus dilatih dan dikembangkan dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah, dalam keluarga dan di masyarakat. Karakter pada kisah Ibrahim dan ayahnya (Aser) tersebut yang paling kuat adalah: (a) rasa ingin tahu, (b) kreatifitas, (c) kerja keras, (d) ulet.
Aplikasinya dalam proses pembelajaran, pendidik hendaknya selalu mengawali pembelajaran dengan Observing (melihat dan mengamati) realitas, misalnya benda kongkrit (aslinya atau tiruannya) untuk kompetensi sains, atau dengan mengamati kasus sosial untuk kompetensi IPS. Dari pengamatan benda atau kasus tersebut, siswa akan mengembangkan pada Discovering dengan melakukan questioning  (pertanyaan tingkat tinggi) misalnya mengapa bensin yang ditempat terbuka cepat habis? atau mengapa Si Jalu terlibat dalam MIRASANTIKA? Apa akibat bagi masa depannya? Dsb. Kegiatan pembelajaran berpindah pada Confronting yaitu adu konsep, adu argumen dengan cara membanding-bandingkan konsep secara mendalam, mendiskusikan tentang bahayanya MIRASANTIKA bagi kesehatan, jiwa dan pikiran serta finansial kita, membandingkan kondisi tubuh anak yang terlibat MIRASANTIKA dengan anak-anak yang tidak  terlibat atau membandingkan dengan jenis minuman yang sehat, memetakan faktor-faktor yang menyebabkan Si Jalu terjerumus pada tindakan tersebut, baik faktor internal maupun faktor eksternal dirinya; faktor keluarga, sekolah dan lingkungan di masyarakat lalu berpindah pada Inquiring  yaitu proses menemukan, menghayati,  meyakini,  dan  mempedomani kebenaran teori yang dipilih lalu masuk pada tahap Reflecting  yaitu  proses melakukan introspeksi ulang dan evaluasi diri (self evaluation) selama ini apakah sesuai dengan konsep/teori yang telah diyakini tadi, dan terakhir Internalizing yaitu proses dimana konsep/teori yang baru dipelajari itu berulang-ulang dilihat, dipikirkan, dihayati, diyakini dan diamalkan, maka jadilah itu karakter/kepribadian anak-anak didik kita.
b)  Penanaman Nilai dengan Strategi Discussion (Mujadalah)  
Masih tentang strategi pembelajaran dengan cara bertanya tingkat tinggi dan dialog, dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 258[27] Allah Swt. mengisahkan dialog antara Ibrahim As. dengan Namrud (Raja Babilonia). Ayat di atas mengisahkan perdebatan Ibrahim dan Namrud tentang siapa sebenarnya yang mempunyai kekuasaan dalam kehidupan ini. Kata Ibrahim Tuhanku bisa menghidupkan dan mematikan manusia. Jawab Namrud: “Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan manusia” lalu didatangkanlah oleh Namrud hamba sahaya lalu dibunuh dengan pedangnya, Ibrahim As. lalu akhirnya mengalahkan logika Namrud ketika ia tidak bisa merubah jalannya matahari dari timur ke barat menjadi dari barat ke timur. Ketika itu maka "gugurlah" kepercayaan umum bahwa Namrud adalah penguasa bumi dalam segalanya, terbukti setelah itu banyak manusia yang mengikuti ajaran Nabi Ibrahim As.
Kisah ini kalau dicermati dari sisi pendidikan karakter akan tampak bahwa di antara strategi penanaman nilai karakter: berani,  konsisten, bertanggung jawab,  integritas pribadi adalah dengan cara membiasakan mujadalah (perdebatan) atau diskusi untuk menemukan kebenaran sesuatu, sebuah model pembelajaran yang efektif untuk diterapkan oleh para pendidik saat ini.

c)   Penanaman Nilai Karakter dengan Keteladanan (Modeling, Uswah).
Dalam surat al-Shaffat ayat 102-108[28] Allah Swt. mengisahkan bahwa Ibrahim AS. telah melaksanakan perintahNya untuk menyembelih puteranya (Ismail As.), ini menggambarkan proses pembelajaran bagi umat manusia. Dalam ayat-ayat tersebut Allah Swt. menyatakan bahwa peristiwa ini sungguh merupakan cobaan/ujian yang nyata, dan cobaan ini juga akan berlaku bagi orang-orang yang datang kemudian, Ibrahim telah sukses menghadapi ujian ini karena ia telah mampu mengalahkan egoismenya dengan cara melepas sesuatu yang amat dicintai yaitu Ismail As.
Dalam peristiwa ini telah terjadi penanaman karakter keteguhan pribadi Ibrahim As. Dalam melaksanakan tugas dan perintah Allah Swt sehingga layak ditiru dan menjadi teladan puteranya. Dari sisi Ismail As tertanam karakter loyal, patuh dan ulet/tabah  dalam melaksanakan tugas yang berat dan menyakitkan.  Karakter-karakter tersebut tidak diajarkan tetapi langsung dipraktikkan dan dirasakan. Kisah ini juga menyadarkan kepada umat manusia bahwa keluhuran dan ketinggian derajat kemanusiaan di mata Allah harus dilalui melalui pengorbanan. Ini adalah bentuk pembelajaran yang kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dengan mempraktikkan langsung oleh pendidik dan peserta didik .

d)       Penanaman Nilai Karakter dengan Soal-Jawab (Question – Answer)
Surat al-Kahfi ayat 65-82[29] berisi kisah yang panjang yang memberikan inspirasi model pembelajaran dialogis antara Musa As. dan Khidir As. Keduanya sedang mengadakan perbincangan mengenai "hakekat" kehidupan. Kedudukan Musa As. saat itu sebagai pembelajar (murid) dan Khidir As. sebagai pengajarnya.
Keduanya melakukan pembelajaran dalam kehidupan nyata dengan melakukan perjalanan panjang. Kegiatan yang dilakukan Khidir As juga tampak aneh, membangun rumah reot yang akan roboh, membunuh anak yang tak berdosa, dan merusak perahu dengan melobangi dinding perahu tersebut. Alhasil, ilmu "hakekat" akhirnya diperoleh oleh Musa As. setelah melalui proses pengamatan dan dialog yang lama dengan Khidir As. Kisah ini sebenarnya merupakan sebuah fragmen pembelajaran dengan mengambil bentuk bertanya dialog (Tanya-Jawab)dalam membahas ilmu pengetahuan.
Nilai karakter yang menonjol dalam fragmen perjalanan Musa As dan Khidir As tersebut adalah rasa ingin tahu, kebersamaan, toleran, bertanggung jawab.

e)        Penanaman Nilai Karakter Lewat Hukuman dan Hadiah (Reward and Punishment
Untuk menegakkan norma dan meluruskan perilaku seseorang al-Qur'an menggunakan hukuman sebagai salah satu metode pembelajaran. Hukuman dipilih sebagai alternatif terakhir ketika metode-metode lain sudah diterapkan dan para peserta didik melakukan penyelewengan/penyimpangan dari norma yang telah diketahuinya. Hukuman bukan dimaksudkan sebagai cara untuk menyakiti peserta didik, namun hukuman bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mereka untuk instrospeksi dan mawas diri akan kekeliruan dan kesalahan yang telah dilakukan di masa lalu, agar segera melakukan koreksi dan kembali ke jalan yang benar.[30]
Kaum 'Ad, Tsamud dan kaumnya nabi Luth yang di hukum oleh Allah adalah pelajaran bagi mereka dan bagi orang-orang yang datang kemudian untuk tetap berada pada jalan yang benar. Hukuman/peringatan ini berlaku bagi siapa saja termasuk bagi para kekasih Allah.
Pada sisi yang lain Allah menampakkan begitu murah dan telah mempersiapkan hadiah bagi hambaNya yang salih dan taat kepadaNya. Misalnya nilai sedekah dan balasan Allah kepada orang yang bersedekah 1 akan melahirkan 7 tangkai, masing-masing tangkai akan melahirkan 100 biji. Nilai karakter dalam hal ini adalah: disiplin, ulet, teguh dalam pendirian.     

f)       Penanaman Karakter dengan Prinsip Sinergi/Keterpaduan  ( learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together)
Penyatuan dalam penyebutan iman dan amal shalih dalam al-Qur’an diulang ulang sebanyak 52 kali. Ini artinya iman sebagai simbol seperangkat teori pengetahuan yang bersifat kognitif harus selalu diaplikasikan dalam aktifitas kongkrit berupa kompetensi riil yang bersifat psikomotorik, dan kompetensi riil tersebut harus bisa dimanifestasikan dalam kehidupan nyata di masyarakat dalam rangka mewujudkan kehidupan bersama dengan damai bahagia dan sejahtera.
Itulah misi iman dan amal saleh dalam Islam. Dari sini maka tidaklah seseorang dikatakan beriman jika ia tidak mampu mengamalkan (mengaplikasikan) nilai-nilai imannya dalam tindakan amaliyah yang nyata. Nabi Muhammad Saw. banyak mengingatkan sahabatnya dengan kata "tidaklah beriman" misalnya dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman”, sahabat bertanya: “Siapa ya Rasul?” jawab beliau: “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguan lisan dan tangannya” [31]

F.   Aktualisasi Penanaman Karakter Melalui Pendidikan
Untuk menggambarkan bagaimana aktualisasi pendidikan karakter ini di sekolah  akan tampak pada bagan-bagan berikut:
(1)   Bagan 1 skematika karakter dalam keseluruhan kecakapan hidup (life skills) anak didik yang berisi dua kelompok besar kecakapan yaitu kecakapan lunak (Soft skills) dan kecakapan keras (Hardskills). Karakter masuk pada kelompok softs kills. Alur penanaman karakter anak didik mengikuti pola : SEEING, KNOWING, LOVING,  DOING, HABITUING, dan buahnya BEHAVING (Apa yang kita lihat akan kita pikirkan, apa yang kita pikirkan akan kita katakan, apa yang kita katakan akan kita lakukan, apa yang kita lakukan akan kita ulangi, apa yang kita ulangi akan kita biasakan, apa yang kita biasakan itulah karakter kita).
(2)   Bagan  2 tentang tata kelola sekolah/madrasah efektif, di mana pada sekolah efektif tersebut terjadi proses penanaman karakter dengan pola di atas dan terakhir akan terjadi habituasi/pembiasaan nilai-nilai karakter di sekolah sehingga anak didik menjadi behaving (berkarakter). Sekolah juga menjalin networking  dengan stakeholders misalnya keluarga, tokoh masyarakat, lembaga-lembaga sosial keagamaan, lembaga-lembaga mitra (Bank, Kantor Pos, Polsek, Industri, dsb) untuk penanaman nilai karakter. 
(3)   Bagan 3 tentang tata kelola model pembelajaran efektif, di mana pembelajaran menggunakan prinsip Active Learning,  Pembelajaran berpusat pada siswa (Student Centered Instructional).  Guru/pendidik berfungsi sebagai stimuller (pendorong, penyedia, dan pengatur dinamika pembelajaran).
(4)   Bagan 4 tentang pendampingan anak didik dalam melakukan tugas/demonstrasi/ praktik kecakapan keras (hard skills) misalnya, praktik melempar cakram, lempar lembing, parktik wudlu, tayammum, shalat janazah, shalat jamak/qasar, shalat dluha, dsb. untuk menanmkan karakter terampil, cermat, dan religius.

G.    Khatimah
Itulah sekelumit orasi yang dapat kami sampaikan tak lupa kami mohon maaf jika dalam tulisan ini ada yang kurang berkenan, kritik membangun, tegur sapa selalu kami harapkan demi kesempurnaan kajian ini.
Terakhir terima kasih kami sampaikan kepada pimpinan insitut, para pimpinan fakultas, sahabat-sahabat karib kami: pak Jazil, pak Munawir, bu Titik, pak Junaidi, pak Saifuddin, pak Asep, bu Lisah, bu Irma, bu Alvin, b Maunah, pak Rubaidi, pak Syafi’i, dan semua karyawan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) atas dorongan dan motivasi yang diberikan kepada kami, dengan iringan do’a semoga Allah Swt membalas dengan balasan yang berlipat ganda, Amin.
















DAFTAR PUSTAKA



Battistich, Victor, Character Education, Prevention, and Positive Youth Development, University of Missouri, St Louis, USA, 2002.
Becker, Jaques S., et all., The Relationship of Character Education Implementation and Academic Achievement in Elementary School, Journal of Research in Character Education, California State University 1 (1), Fresno, 2003.
Berkowit, Marvin W., and Melinda C Bier, What Work in Character Education, Character Education Partnership, Washington DC., 2005)
Backford, Katherine M.H., and Arthur Newcomb, Analyzing Character, Gutenberg eBook, 2004)
Josephson Institute, Character Counts, Center for Youth Ethic, USA, 2007)
Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa, Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat., 2010.
Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007, Tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan
Pusat Kurikulum, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Badan Litbang, Kementrian Pendidikan Nasional, 2010.
State Board of Education, Character Education Informational Handbook and Guide for Support and Implementation for STUDENTS Citizen Act of 2011, Character and Civic Education, Department of Public Instruction, North Caroline, USA, 2001.
Undang-undang No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Webber, Jonathan, Sarte’s Theory of Character, Europe Journal of Philosophy, Blackwell Publishing House, UK, 2006)
Winataputra, Udin s., Implementasi Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Karakter, Konsep, Kebijakan, dan Kerangka Programatik, Makalah Seminar di Surabaya, 2010.
Mohammad Jamaluddin al-Qasimy, Tafsir Mahasin al- Ta’wil, Kairo: Darul Ahya’, I, tt., hal. 8.  Tafsiran senada juga dikemukakan oleh Abu Su’ud bin Muhammad ‘Imady al-Hanafi, Tafsir Abi Su’ud, Riyad: Maktabah Riyad, tt, jilid 1
Abdul Fattah Jalal, Min Ushuli al-Tarbiyah fi al-Islam, Mesir: Dar a-Kutub al-Misriyyah, 1977
Ismail Haqi al-Buruswy, Tafsir Ruhul Bayan, Beirut: Darul Fikr, I, Juz 1
Musthafa al-Ghalayani, Idhatun Nasyi’in, Beirut: Maktabah Ashriyyah, VI, 1949, hal. 185
Musthafa al-Maraghy, Tafsir al-Maraghy,  Beirut: Darul Fikr, Jilid I.
Abdul Rahman al-Rahlawy, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha, Beirut: Dar al-Fikr, I, 1979.
Mohammad ‘Athiyyah al-Abrasyi, Ruhu al-Tarbiyah wa al-Ta’lim, Saudi Arabiah: Dar al-Ahya’. 
Omar Mohammad Thoumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, terj., Surabaya: Bina Ilmu, I, 1986.
Ahmad  Fuad  al-Ahwany, al-Tarbiyah fi al-Islam, Mesir: Dar al-Ma’arif, tt.
Ali Khalil Abu al-‘Ainain, Falsafatu al-Tarbiyah al-Islamiyyah fi al-Qur’an al-Karim, Beirut: Dar al-Fikr al-Araby, 1980, I.
Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi: Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004  Bandung: Rosda Karya, 2004.
Syed Mohammad  Nuqaib al-Attas, Aims and Objectives of Islamic Education, Jedah: King Abdul Aziz University, 1979.
Mohammad  Munir Mursy, al-Tarbiyah al-Islamiyyah Ushuluha wa Tathawwuruha fi al-Bilad al-Arabiyyah, Kairo: Alam al-Kutub, 1977.
Mohammad Fadhil al-Jamali, Filsafat Pendidikan dalam Al-Qur’an, (terj.) Judial Falasani, Surabaya: Bina Ilmu, 1986.
Mohammad Quthub, Manhaj al-Tarbiyah al-Islamiyyah, Kairo: Dar al-Syuruq, 1400 H, Cet. IV.
Omar Moh}ammad al-Thoumy al Syaibani, Filsafat Pendidikan Islam, terj. (Jakarta: Bulan Bintang, 1979).
HM. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bina Aksara,I, 1987.
--------, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasar  Pendekatan Multidisipliner, Jakarta: Bina Aksara, 1991, I, 40. Lihat pula: Second Word Conference on Muslim Education, International Seminar on Islamic Concept and Curriculla Recommendation, 15 to 20 March 1980, Islamabad.
Webber, Jonathan, Sarte’s Theory of Character, Europe Journal of Philosophy, Blackwell Publishing House, UK, 2006.
Battistich, Victor, Character Education, Prevention, and Positive Youth Development, University of Missouri, St Louis, USA, 2002.
Blackford, Katherine M.H., and Arthur Newcomb, Analyzing Character, Gutenberg, eBook, 2004.
                                                          





[1] Tempo Interaktif,  27/8/2009
[2] Mohammad Jamaluddin al-Qasimy, Tafsir Mahasin al- Ta’wil, Kairo: Darul Ahya’, I, tt., hal. 8.  Tafsiran senada juga dikemukakan oleh Abu Su’ud bin Muhammad ‘Imady al-Hanafi, Tafsir Abi Su’ud, Riyad: Maktabah Riyad, tt, jilid 1, hal.19
[3]Abdul Fattah Jalal, Min Ushuli al-Tarbiyah fi al-Islam, Mesir: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1977, hal. 7     
[4]Ismail Haqi al-Buruswy, Tafsir Ruhul Bayan, Beirut: Darul Fikr, I, Juz 1, hal. 13 
[5] Musthafa al-Ghalayani, Idhatun Nasyi’in, Beirut: Maktabah Ashriyyah, VI, 1949, hal. 185
[6]Musthafa al-Maraghy, Tafsir al-Maraghy,  Beirut: Darul Fikr, Jilid I, hal. 30                     
[7] Abdul Rahman al-Rahlawy, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha, Beirut: Dar al-Fikr, I, 1979, 13.
[8]Mohammad ‘Athiyyah al-Abrasyi, Ruhu al-Tarbiyah wa al-Ta’lim, Saudi Arabiah: Dar al-Ahya’, hal.7 
[9]Omar Mohammad Thoumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, terj., Surabaya: Bina Ilmu, I, 1986, hal. 3
[10]Lihat: Ahmad  Fuad  al-Ahwany, al-Tarbiyah fi al-Islam, Mesir: Dar al-Ma’arif, tt, hal. 3
[11]Lihat: Ali Khalil Abu al-‘Ainain, Falsafatu al-Tarbiyah al-Islamiyyah fi al-Qur’an al-Karim, Beirut: Dar al-Fikr al-Araby, 1980, I, hal. 37
[12]HM. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bina Aksara,I, 1987, hal. 13-14               
[13]Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi: Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004  Bandung: Rosda Karya, 2004, hlm.78.
[14]Syed Mohammad  Nuqaib al-Attas, Aims and Objectives of Islamic Education, Jedah: King Abdul Aziz University, 1979 hal.1
[15] Mohammad  Munir Mursy, al-Tarbiyah al-Islamiyyah Ushuluha wa Tathawwuruha fi al-Bilad al-Arabiyyah, Kairo: Alam al-Kutub, 1977, hal. 18
[16]Lihat: Mohammad Fadhil al-Jamali, Filsafat Pendidikan dalam Al-Qur’an, (terj.) Judial Falasani, Surabaya: Bina Ilmu, 1986, hal. 3
[17] Mohammad Quthub, Manhaj al-Tarbiyah al-Islamiyyah, Kairo: Dar al-Syuruq, 1400 H, Cet. IV, hal. 13
[18]Omar Moh}ammad al-Thoumy al Syaibani, Filsafat Pendidikan Islam, terj. (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 489-518.
[19]Lihat: HM. Arifin, M. Ed., Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasar  Pendekatan Multidisipliner, Jakarta: Bina Aksara, 1991, I, 40. Lihat pula: Second Word Conference on Muslim Education, International Seminar on Islamic Concept and Curriculla Recommendation, 15 to 20 March 1980, Islamabad.
[20] Webber, Jonathan, Sarte’s Theory of Character, Europe Journal of Philosophy, Blackwell Publishing House, UK, 2006, hal. 95

[21]Battistich, Victor, Character Education, Prevention, and Positive Youth Development, University of Missouri, St Louis, USA, 2002, hal. 2

[22] Blackford, Katherine M.H., and Arthur Newcomb, Analyzing Character, Gutenberg, eBook, 2004, 25.

[23]Lihat: Pusat Kurikulum, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Badan Litbang, Kementrian Pendidikan Nasional,  2010, hal. 9
                              
[24]lihat: Prof. Komaruddin Hidayat dalam : Kompas  edisi 5 Nopember 2011

[25]Pusat Kurikulum, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Badan Litbang, Kementrian Pendidikan Nasional,  2010,  hal. 9-10

[26]Arti ayat-ayat tersebut adalah: "Dan (ingatlah) waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar: Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?, sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata (74). Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim termasuk orang-orang yang yakin (75). Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inikah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam" (76). Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inikah Tuhanku" tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku pastilah aku termasuk orang-orang yang tersesat" (77). Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku ini yang paling besar", ketika matahari itu terbenam dia berkata:"Wahai kaumku sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kau sekutukan"(78). Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (79)
[27]Artinya: "Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim (Namrudz) tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu kekuasaan, ketika Ibrahim mengatakan:"Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan", orang itu berkata: "Akulah yang menghidupkan dan mematikan", Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur maka terbitkanlah ia dari barat", lalu heran terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
[28]"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu". Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (102).  Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya) (103). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim (104), Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik" (105). Sesungguhnya ini benar-benar merupakan ujian yang nyata (106). Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (107). Dan kami abadikan untuk Ibrahim itu dikalangan orang-orang yang datang kemudian (108)
[29]Artinya:"Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami" (65). Musa berkata kepada Khidir: "Bolehkan aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu-ilmu yang telah diberikan kepadamu?"(66)
[30] lihat; Mohammad Qutub, Manhaj al-Tarbiyah al-Islamiyyah, (Kairo, Dar al-Shuruq, tt). hal. 233-236.
[31] Lihat; Al-Imam Abi Zakariya Yahya bin Sharaf Al-Nawawi, Riyadu al-Salihin (Jedah: Dar al-Qublah li al-Tsaqafah al-Islamiyyah, 1990), hlm. 152.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARI TARBIYAH UNTUK INDONESIA

MEMBINA DAN MENGEMBANGKAN GURU BERKARAKTER