MEMBINA DAN MENGEMBANGKAN GURU BERKARAKTER
A. Mukaddimah
Alhamdulillah, segala puji bagi
Allah Tuhan Yang Maha ‘Alim, Dzat yang ilmuNya luas tak berbatas, Dzat yang
seandainya seluruh air lautan menjadi tinta untuk menuliskan ilmuNya, pastilah
air lautan akan habis sebelum ilmuNya selesai dilukiskan.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan pada baginda
Rasulillah Muhammad Saw., keluarga, para sahabat dan pengikutnya. Nabi dan
utusan Allah ini telah menampilkan diri sebagai figur guru dan pendidik sejati
bagi umat manusia sepanjang masa, sekaligus merupakan miniatur Insan Kamil (pribadi paripurna) yang
akan menjadi model produk lulusan
pendidikan Islam bagi umatnya.
Hadirin Yang budiman!
Acapkali kita mendengar obrolan para orang tua tentang buah hatinya,
“Saya bangga anak-anak saya sudah bisa bermain komputer”.
“Heran, cepat sekali mereka menguasai cara menggunakan HP”, tetapi manakala
obrolan itu berlanjut, maka pujian itu pada ujungnya bergeser menjadi keluhan
dan keprihatinan. Ini tatkala mereka sudah berbincang soal sikap dan perilaku
generasi muda pada umumnya. Mereka
bergumam : “Anak sekarang susah diatur, tak punya sopan santun, tak tahu
etika”, orang Jawa menyebutnya “Kadok
Wani Kurang Dugo”.
Banyak pihak berandai-andai, kalau saja setiap kepandaian dibarengi
dengan kepribadian yang mulia tentu akan lebih indah. Andai peningkatan
kecerdasan diiringi dengan kematangan mental tentu akan melegakan dada semua orangtua.
Sayangnya kini “ilmu padi” tidak laku
lagi, makin berisi makin merunduk sudah tidak populer lagi. Sebagaimana lagu Pergi Sekolah karya Ibu Sud yang sudah jarang didendangkan anak-anak. Padahal liriknya
amat bermakna:…Selamat
belajar nak penuh semangat, Rajinlah selalu tentu kau dapat, Hormati
gurumu sayangi teman, Itulah tandanya kau murid budiman.
Kini menjadi budiman seolah bukan kebanggaan lagi. Padahal
itulah puncak capaian pendidikan: menjadi pribadi budiman, menyayangi sesama,
memiliki empati, dan berkepedulian sosial tinggi. Sudah seharusnya semakin
berprestasi seseorang semakin berbudi. Sebagaimana jauh-jauh hari ditekankan
oleh “Bapak” Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro, bahwa pendidikan merupakan
daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin,
karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Undang-undang No.20/2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas juga menggariskan, “Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa...”.
B.
Wajah Pendidikan Kita
Saat Ini
Diakui dalam berbagai aspek, pendidikan di negeri ini mengalami
kemajuan. Sarana dan prasarana sekolah terus mengalami perbaikan. Peningkatan
anggaran pendidikan jelas wujud nyata dari tekad Pemerintah untuk memajukan
dunia pendidikan. Prestasi pelajar dan mahasiswa di berbagai ajang kompetisi
nasional maupun internasional juga membanggakan. Generasi penerus itu setidaknya
mampu membuat dada para orang tua mengembang bangga, karena anak-anak bangsa
ini ternyata mampu berkiprah di forum internasional.
Seperti dirilis oleh
Republika, anak-anak Indonesia kembali menorehkan prestasi dunia. Kali ini, 15
peserta didik SMP mampu merebut medali emas, perak dan perunggu di kompetisi International
Teenagers Mathematics Olympiad (ITMO) 2015 di Sungai Petani, Kedah,
Malaysia. Tim Matematika siswa SMP Indonesia menunjukkan
kehebatannya dengan menggondol lima medali emas, enam medali perak dan sembilan
medali perunggu. Kompetisi dua tahunan ini menjadi ajang cetak prestasi matematika
yang luar biasa bagi siswa SMP di kancah Internasional. [1]
Masih menurut Republika,
Tim dari KPM (Klinik Pendidikan Matematika) Indonesia sukses meraih satu medali
emas, dua medali perak, dan satu medali perunggu pada ajang kompetisi
matematika Wizards at Mathematics International Competition (Wizmic)
ke-5 yang digelar di Lucknow, India pada 23-26 Oktober 2016. Dalam individual contest,
peraih medali emas Muhammad Fikri Raikkonen (SMPN 111 Jakarta), dua peraih
medali perak Muhammad Arif Wibisono (SMPI Al Azhar 8 Kemang Pratama), Muhammad
Nadhif Haryadipta Putra Ridha (SMP Labschool Rawamangun), peraih medali
perunggu Antum Ruhul Faqih Hakiki (SMPI Al Azhar Kelapa Gading). Adapun dalam team contest,
tim KPM mendapatkan posisi sebagai first runner up.
Dari pulau Sumatera Irwan
Ade Putra, meski sudah agak lama
pelajar SMAN 1 Pekanbaru pernah dua kali meraih medali emas di Asian Phisics
Olympiad (AphO) Kazakhstan dan International Phisics Olympiad (Ipho)
Singapura, Olimpiade
Iptek Internasional, juga pada International Sustainable World Energy,
Engineering & Environment Project Olympiad, (I-SWEEEP) 2012 diselenggarakan di Houston,
Amerika Serikat pada 3 – 6 Mei 2012.[2]
Di sela-sela prestasi gemilang tersebut di atas, memang harus diakui
masih terpampang sisi buram dari mereka. Jumlah kaum muda pengguna narkoba
masih mencemaskan. Informasi dari Balai Diklat Badan Narkotika Nasional (BNN),
terdapat sekitar 3,6 juta pecandu narkoba di Indonesia yang melibatkan kaum
muda. Kekerasan juga banyak mewarnai dunia anak bangsa ini. Kekerasan pada saat
masa orientasi siswa (MOS) masih saja terjadi. Oknum kepala sekolah menempeleng
siswa, siswa mengeroyok guru, hingga guru BK mengadu dua siswanya untuk
berkelahi di halaman sekolah. Tawuran antar pelajar di jalanan tetap menjadi
pemandangan yang biasa di mass media.
Geng perempuan ramai-ramai menghajar lawan gengnya di lorong
sekolah. Dari sisi susila juga banyak fakta yang membuat para orang tua mengelus
dada. Longgarnya pergaulan pria wanita membuat remaja kebablasan. Angka aborsi
di kalangan remaja masih tinggi. Kondisi sosial yang semakin permisif, minimnya sanksi sosial, membuat mereka gampang
melanggar susila.
Kebohongan terstruktur, telah dipertontonkan oleh banyak sekolah,
sekolah telah mengajarkan kecurangan meski secara “sembunyi-sembunyi” tapi
massal pada saat pelaksanaan Ujian Nasional (UN) berlangsung. Tetapi syukurlah,
pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan terus berupaya memperbaiki sistem ini sehingga
kecurangan secara bertahap dapat dieleminasi. Kini di mana-mana juga berkembang
tekad untuk kembali ke jalan yang benar melalui penandatanganan pakta
kejujuran.
Disiplin dan tertib berlalu lintas, budaya antri, budaya baca, hingga
budaya bersih bangsa ini juga masih jauh di bawah standar. Kebanggaan terhadap jati diri dan kekayaan budaya
sendiri juga masih rendah. Sebagai bangsa, agaknya kita masih saja mengidap
“minder kolektif”, terbukti masih suka tergila-gila dan melahap tanpa seleksi terhadap
segala produk dan budaya asing.
Kita semua –khususnya
para pendidik- wajar merenung dan bertanya ulang: bagaimana karakter bangsa
ini? Atau dalam pertanyaan yang lebih konseptual tapi bernada waswas: bagaimana
masa depan Indonesia bila generasi penerusnya tidak memiliki karakter dan jati
diri? Pembangunan watak (character
building) amat penting. Kita
ingin membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan
berperilaku baik. Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan
mulia. Peradaban itu dapat kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan
masyarakat yang baik (good society).
Sudah saatnya dibangun kembali kesadaran akan pentingnya pembinaan
karakter bagi insan Indonesia. Topik character building memang mulai mengemuka akhir-akhir ini. Berbagai pelatihan
secara sporadis dilakukan untuk para eksekutif, pendidik, karyawan perusahaan
dalam bentuk outbound maupun workshop.
Tentu itu aktivitas itu bagus, tapi belumlah cukup. Perlu ada upaya bersama,
sistemik dan terpadu agar pendidikan karakter menjadi gerakan nasional yang
efektif.
Gerakan pendidikan karakter ini sejatinya telah dicanangkan
semenjak Presiden SBY tahun 2010 lalu saat peringatan Hardiknas. Istilah yang
digunakan menjadi pembangunan karakter, bukan lagi pendidikan karakter, sebab
gerakan ini ternyata waktu itu tidak hanya didukung oleh Kementerian Pendidikan
Nasional saja, tetapi lintas kementerian yang meliputi Kementerian Koordinator
Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Politik Hukum dan Keamanan, Kementerian Dalam
Negeri, Kementerian Agama, Kementerian Keuangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika,
Kementerian Perhubungan dan Pariwisata, Kementerian
Pemuda dan Olahraga, serta Kementerian Peranan Wanita dan kementerian lain
terkait. Munculnya Gerakan Nasional ini merupakan ungkapan batin bahwa sebenarnya
pendidikan bangsa kita kini sedang sakit, pendidikan di negeri kita kini sedang
tersesat, pendidikan bangsa kita kini
sedang kehilangan arah, ada mustika yang hilang dari pendidikan kita.
Sasaran gerakan ini adalah seluruh pemangku kepentingan/ lintas kementerian
demi terbangunnya karakter bangsa yang kokoh. Khusus di bidang pendidikan,
fokus utamanya adalah pada sekolah (peserta didik, pendidik, tenaga
kependidikan), keluarga (anak, orangtua, saudara, pembantu), masyarakat (orang-orang
di sekitar peserta didik), dan lingkungan.
Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, pemerintah
memasukkan pendidikan karakter melalui penguatan kurikulum mulai dari tingkat
satuan pendidikan terendah hingga perguruan tinggi sebagai bagian dari penguatan
sistem pendidikan nasional. Namun perlu ditegaskan tidak akan ada penambahan
mata pelajaran tersendiri. Pendidikan karakter diintegrasikan ke dalam mata
pelajaran yang sudah ada, di samping lewat pembiasaan dalam budaya sekolah, juga
melalui ko-kurikuler dan ektrakurikuler, serta melibatkan partisipasi
lingkungan, keluarga, dan masyarakat.
Karakter dan pendidikan karakter bangsa sejatinya bukan masalah
baru bagi bangsa Indonesia, bukankah bangsa ini sejak masa-masa jauh sebelum
kemerdekaan sudah dikenal dengan bangsa yang ramah, bangsa yang menghargai adat
ketimuran, dahulu di sekolah-sekolah ditanamkan pendidikan budi
pekerti, pendidikan etiket, pendidikan sopan-santun (Toto Kromo Jw), dan sejenisnya, namun mengapa tiba-tiba seperti ada
petir di siang hari bangsa Indonesia –khususnya dunia pendidikan- terhentak
dengan issu pendidikan karakter? Apakah selama ini dunia pendidikan kita tidak
melakukannya? Lalu apa yang ditanamkan oleh sekolah-sekolah pada anak-anak
didiknya selama 16 tahun pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan
tinggi? Sisi manakah dari potensi anak-anak didik kita yang telah kita lupakan
dan kita abaikan? Mengapa sekolah-sekolah kita terkesan mengabaikan dengan
hal-hal demikian?.
Sekolah-sekolah di negeri ini telah kehilangan sesuatu yang
sangat berharga yang selama ini dimiliki dan dijunjung tinggi sebagai warisan
leluhur, sekolah-sekolah lebih sibuk dengan sisi akademik agar siswa mendapat
nilai tinggi. Keberadaan pembelajaran nilai-nilai moral dan karakter terabaikan.
Nilai-nilai luhur warisan nenek moyang telah dianggap basi. Wejangan-wejangan
lewat kata-kata mutira Ki Hajar Dewantoro telah dimusiumkan, semisal filosofi
Sistem Among : “Ing Ngarso Asung Tulodo,
Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Andayani”, bukankah ini telah mengajarkan karakter keharusan
pemberian keteladanan dari para pemimpin, karakter pembakar semangat dalam sebuah team
work, dan karakter loyalitas pada pemimpin timnya .
Mengejar prestasi
akademis mamang harus, namun melupakan dan mengabaikan nilai-nilai karakter dan
moral merupakan kesalahan fatal, itulah akar penyebab kehancuran bangsa. Penyair
Arab mengatakan: “Innama al Umamu
al-Akhlaqu ma Baqiyat, wa in Hum Dzahabat Akhlaquhum Dzahabu” (Sesungguhnya
suatu bangsa itu akan tetap kokoh dan eksis selama penghuninya berakhlak dan
berkarakter, jika akhlak dan karakternya hilang, maka robohlah bangsa itu).
Apa yang terjadi di
Indonesia ini, sebenarnya juga terjadi di negara-negara lain. Profesor S. Shapiro dari University of North Carolina
meninjau kembali situasi pendidikan di Amerika dalam Losing Heart: The Moral and
Spiritual Miseducation of America’s Children. Ia menyaksikan sekolah-sekolah yang
bersaing keras satu sama lain demi mencapai kualifikasi tertinggi sesuai dengan
alat ukur yang ditetapkan pemerintah; ruang-ruang
kelas yang lebih mirip pabrik untuk memproduksi sumber daya manusia yang akan
dijual di pasar tenaga kerja; guru-guru yang sibuk mempersiapkan, melaksanakan,
dan memeriksa hasil tes yang makin lama makin canggih; para siswa yang
mengarahkan seluruh perhatiannya untuk lulus dalam tes-tes itu dengan ukuran dan
kelulusan yang makin lama makin berat.
Pendidikan sudah
berubah menjadi sekadar bersekolah. Guru tidak lagi mendidik, ia hanya mengajar. Murid tidak lagi tumbuh pribadi dan
karakternya ia hanya tambah pengetahuannya. Suasana sekolah yang menyenangkan, menggairahkan
dan mengesankan telah digantikan oleh situasi yang menegangkan, melumpuhkan,
dan membosankan. Dari sekolah-sekolah telah keluar orang-orang yang mengubah kearifan
menjadi informasi, masyarakat menjadi pasar, agama menjadi komoditas, politik
menjadi rekayasa, dan kesetiakawanan menjadi nepotisme.
Semuanya itu terjadi karena pendidikan
telah kehilangan jiwanya, telah dilepaskan dari esensinya. “Education worthy of the name is
essentially education of character,” kata Martin Buber. Tujuan pembelajaran ialah menghasilkan
pelajar yang lulus dalam ujian sekolah, sementara tujuan pendidikan ialah
menghasilkan anak didik yang lulus dalam ujian kehidupan. Hasil belajar adalah
pengetahuan. Hasil pendidikan adalah karakter. “The dimensions of character are
knowing, loving, and doing the good,” kata Thomas Lickona. Saya yakin bahwa para pendidik bangsa
ini dahulu mendirikan sekolah agar anak-anak didik mereka mengetahui yang baik,
mencintai yang baik, dan mengamalkan yang baik.
C.
Hakekat dan
Tujuan Akhir Pendidikan dalam Islam
Muhammad
Jamaluddin Al-Qasimy dalam menjelaskan makna al-Tarbiyah adalah: “proses menghantarkan seseorang (anak
didik) sampai pada batas kesempurnaan
yang dilakukan secara tahap demi tahap”.[3]
Abdul
Fattah Jalal, bahwa hakekat pendidikan Islam adalah proses persiapan dan
pemeliharaan anak didik pada masa kanak-kanak.[4] Pandangan ini diambil
dari maksud surat al-Isra’: 24 dan surat al-Syu’ara’: 18 dimana pendidikan masa
kanak-kanak akan sangat menentukan pribadi seseorang dimasa tuanya.
Ismail
Haqi al-Buruswy
memberikan arti pendidikan Islam dengan proses pengembangan pikiran dengan
berbagai kecerdasan, bimbingan jiwa dengan hukum-hukum syari’ah, pengembangan
hati nurani dengan nilai-nilai kasih sayang dan etika kehidupan.[5]
Musthafa
al-Ghalayani memberikan pandangan tentang hakekat pendidikan adalah penanaman
etika yang mulia pada jiwa anak yang sedang tumbuh dan berkembang dengan cara
memberikan petunjuk dan nasehat, sehingga ia memiliki potensi-potensi dan
kompetensi-kompetensi yang mantap yang dapat membuahkan sifat-sifat bijak,
cinta akan kreasi dan berguna bagi tanah airnya.[6]
Musthafa
al-Maraghy mengemukakan visinya tentang esensi pendidikan adalah pembinaan dan
pengembangan jasad, jiwa dan akal manusia dengan berbagai petunjuk berdasar
wahyu untuk mencapai kesucian dan kesempurnaan.[7]
Al-Ashfahany
mengemukakan hakekat pendidikan dalam Islam adalah proses menumbuhkan sesuatu
secara bertahap yang dilakukan setapak demi setapak sampai pada batas
kesempurnaan.[8]
Athiyyah al-Abrasyi
berpendapat bahwa hakekat pendidikan Islami adalah upaya mempersiapkan individu
untuk kehidupan nyata yang lebih sempurna berisikan kekuatan raga, ketajaman
berpikir, kesempurnaan etika, giat dalam berkreasi, toleran pada yang lain.[9]
Prof. Dr. Omar Mohammad
Thoumy al-Syaibani mengartikan pendidikan sebagai proses mengubah tingkah laku
individu pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya dengan cara
pengajaran sebagai aktifitas asasi dan sebagai profesi asasi dai antara
profesi-profesi asasi dalam masyarakat.[10]
Ahmad Fuad al-Ahwany
mengartikan pendidikan Islam sebagai: “Nidzam
al-ijtima’i yanba’u min falsafati kulli
umatin wa huwa al-ladzi yathbiqu hadzihi al-falsafah au yubrizuha ila al-wujud”[11]
Nuqaib al-Attas mengemukakan tujuan akhir pendidikan Islam adalah
manusia yang baik. [12]
Sedangkan Atiyyah al-Abrasyi dan Munir Mursy menyetujui pendapat Al-Ghazali
bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah kesempurnaan manusia (al-kamalah
al-insaniyyah).[13]
Mohammad Fadhil al-Jamali merumuskan tujuan akhir pendidikan Islam
dengan empat macam: (1) mengenalkan manusia akan perannya di antara sesama
makhluk dan tanggung jawabnya dalam hidup ini, (2) mengenalkan manusia akan
interaksi sosial dan tanggung jawabnya dalam tata hidup bermasyarakat, (3) mengenalkan
manusia akan alam dan mengetahui hikmah diciptakannya serta mengambil manfaat
dari padanya, (4) mengenalkan manusia akan pencipta alam Allah Swt. dan
tatacara beribadah kepadaNya.[14]
Mohammad Quthub berpendapat bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah kesempurnaan
manusia secara pribadi atau kelompok yang mampu menjalankan fungsinya sebagai
hamba Allah dan khalifahNya guna membangun dunia/alam sesuai dengan konsep yang
ditetapkan oleh Allah.[15]
Ciri-cirinya mengedepankan prinsip-prinsip berikut:
(1) Al-Syumuliyah (universal) antara aspek aqidah, ibadah, akhlak dan muamalah.
(2) Al-Tawazun (keseimbangan)antara aspek pribadi, komunitas dan kebudayaan.
(3) Al-Tabayun
(kejelasan) fungsi dan karakteristik berbagai aspek
kejiwaan manusia (qalb, ‘aql, dan nafs).
(4) At-Tanasub
(keterkaitan) antara berbagai aspek tersebut dan
tidak saling bertentangan.
(5) Al-Waqi’iy
(realistik) dapat dilaksanakan dan tidak
berlebih-lebihan.
(6) Al-Taqaddumy
(dinamis) dapat menerima perubahan sesuai dengan
perkembangan situasi dan kondisi masyarakat.
(7) Al-Kamal
al-Insaniy (kesempurnaan manusia) yaitu selalu mengedepankan
visi dan misi menggapai kesempurnaan pribadi muslim.
Menurut Omar Mohammad al-Taoumy Al-Shaibani: bahwa tujuan akhir pendidikan Islam harus mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut: (1) menonjolkan pendidikan agama dan akhlak, (2) mempertimbangkan
pengembangan menyeluruh dari pribadi siswa, jasmani akal dan rohani, (3)mempertimbangkan
keseimbangan pribadi dan masyarakat, dunia dan akhirat, (4)memperhatikan seni, pahat, ukir, tulisan indah, gambar dsb., (5)memperhatikan perbedaan kebudayaan dan perbedaan individu.[16]
Berdasar kajian hakekat pendidikan Islam dan tujuan akhir yang akan
dicapai siswa dalam proses pendidikan Islam sebagaimana dikemukakan di atas,
maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam sangat mengedepankan karakter dan
bahkan pendidikan Islam adalah pendidikan yang berbasis dan bersendikan
karakter. Ini karena Islam sendiri adalah ajaran karakter, misi kedatangan Nabi Muhammad Saw. untuk menyempurnakan
akhlak dan budi pekerti yang mulia, Innama bu’ithtu li utammima makarima
al-akhlaq. Hanya persoalannya mengapa lembaga-lembaga pendidikan Islam saat
ini juga banyak yang melupakan misi dan karakteristik tersebut?, mengapa banyak
dari madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah Islam telah larut dalam arus
globalisasi dengan meninggalkan ciri khas/karakteristik misi Islam?. Di sinilah
letak pentingnya kita menyadari bahwa banyak lembaga kita sedang sakit, karena kehilangan ruhnya, itulah pendidikan karakter.
D.
Apa Makna Karakter?
Aristoteles menyebut pengertian karakter yang baik adalah kehidupan
berperilaku baik dan penuh kebajikan, berperilaku baik terhadap pihak lain
Tuhan Yang Maha Esa, manusia, alam semesta dan terhadap diri sendiri. Jonathan Webber dalam
Journal of Philosophy menjelaskan bahwa karakter adalah akumulasi dari berbagai
ciri yang muncul dalam cara berfikir, merasa dan bertindak[17] (Webber, 2006: 95).
Sikap pemberani atau pengecut seseorang dalam menghadapi bahaya, sikap
ketakutan dalam menghadapi orang banyak, merupakan contoh-contoh sederhana
tentang karakter seseorang.
Demikian
pula rumusan yang dikemukakan Victor Battistch dari Universitas Missouri St.
Louis, dalam salah satu tulisannya berjudul Character Education, Prevention
and Positive Youth Development, menegaskan bahwa karakter adalah konstelasi
yang sangat luas antara sikap, tindakan, motivasi dan ketrampilan. Karakter
mencakup sikap, tindakan, cara berfikir, dan respon terhadap ketidakadilan,
interpersonal dan emosional, serta komitmen untuk melakukan sesuatu bagi
masyarakat, bangsa dan negaranya[18]. Sebagaimana Webber, Battistich juga melihat,
karakter selalu dihadapkan pada dilema antara baik buruk, dilakukan atau tidak
dilakukan oleh seseorang. Melakukan yang baik berarti berkarakter baik dan
ideal, sebaliknya melakukan yang buruk berarti berkarakter buruk.
Sejalan
dengan keduanya, Katherine M.H, Blackford dan Arthur Newcomb, dalam tulisannya
tentang Analyzing Character menekankan tentang karakter seseorang yang
senantiasa berlawanan secara diametral antara baik dan buruk. Akan tetapi,
Katherine menegaskan bahwa orang-orang yang berkarakter yang bisa diharapkan
akan bisa maju dan akan mampu membawa kemajuan adalah mereka yang memiliki
ciri-ciri pokok, yakni, kejujuran, bisa dipercaya, setia, bijaksana, penuh
kehati-hatian, antusias, berani, tabah, penuh integritas dan bisa diandalkan[19]. Karakter terdiri dari
tiga unjuk perilaku yang saling berkaitan yaitu: (1) tahu arti kebaikan, (2) mau
berbuat baik, dan (3) nyata berperilaku baik. Ketiga substansi dan proses psikologis
tersebut bermuara pada kehidupan moral dan kematangan moral individu. Dengan
kata lain, karakter dapat dimaknai sebagai kualitas pribadi yang baik.
Menurut dokumen Desain Induk Pendidikan Karakter terbitan Kementerian
Pendidikan Nasional, pendidikan karakter didefinisikan sebagai pendidikan
nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang
bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengambil keputusan yang
baik, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan
sehari-hari dengan sepenuh hati.[20] Yang jelas
pendidikan karakter selayaknya dikembangkan dengan pendekatan terpadu dan
menyeluruh.
Efektivitas pendidikan karakter tidak selalu harus dengan menambah program
tersendiri, melainkan bisa melalui transformasi budaya dan kehidupan di
lingkungan sekolah. Melalui pendidikan karakter semua berkomitmen untuk
menumbuhkembangkan peserta didik menjadi pribadi utuh yang menginternalisasi
kebajikan (tahu, mau), dan eksternalisasi kebajikan berupa terbiasa mewujudkan
kebajikan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Hingga saat ini, secara kurikuler telah dilakukan berbagai upaya untuk
menjadikan pendidikan lebih bermakna bagi individu, tidak sekadar memberi
pengetahuan (kognitif), tetapi juga menyentuh tataran afektif dan psikomotor
melalui mata pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu
Pengetahuan Sosial, Bahasa Indonesia, dan Olahraga. Namun harus diakui semua
itu belum mampu mewadahi pengembangan karakter secara dinamis dan adaptif terhadap pesatnya
perubahan. Oleh karena itu pendidikan karakter perlu dirancang-ulang dalam
wadah yang lebih komprehensif dan lebih bermakna. Pendidikan karakter perlu
direformulasikan dan direoperasionalkan melalui transformasi budaya dan
kehidupan satuan pendidikan.
Secara kejiwaan dan sosial budaya pembentukan karakter dalam diri seseorang
merupakan fungsi dari seluruh potensi individu (kognitif, afektif, dan
psikomotorik) dalam konteks interaksi sosiokultural (dalam keluarga, satuan
pendidikan, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi
karakter dapat dikelompokan dalam olah hati (spiritual and
emotional development), olah pikir (intellectual
development), olah raga dan kinestetik (physical and
kinestetic development), serta olah rasa dan karsa (affective,
attitude and social development). Keempat proses psikososial tersebut
secara terpadu saling berkait dan saling melengkapi, yang bermuara pada
pembentukan karakter yang menjadi perwujudan dari nilai-nilai luhur.
Kemendikbud telah mengintrodusir 18 macam inti karakter dalam desain induk
yang akan dikembangkan pada semua kegiatan pendidikan dan pembelajaran serta
penciptaan suasana yang kondusif di sekolah, yaitu:[21]
|
No
|
Nilai/Inti Karakter
|
Deskripsi
|
|
01
|
Religius
|
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang
dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun
dengan pemeluk agama lain.
|
|
02
|
Jujur
|
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang
selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
|
|
03
|
Toleran
|
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat,
sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya
|
|
04
|
Disiplin
|
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai
ketentuan dan peraturan
|
|
05
|
Kerja keras
|
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan
belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
|
|
06
|
Kreatif
|
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru
dari sesuatu yang telah dimiliki
|
|
07
|
Mandiri
|
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam
menyelesaikan tugas-tugas
|
|
08
|
Demokratis
|
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan
kewajiban dirinya dan orang lain
|
|
09
|
Rasa ingin tahu
|
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan
meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
|
|
10
|
Semangat kebangsaan
|
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan
bangsa dan negara di atas kepentingan dari kelompoknya
|
|
11
|
Cinta tanah air
|
Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan,
kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik,
sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
|
|
12
|
Meghargai prestasi
|
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang
berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang
lain.
|
|
13
|
Bersahabat/komunikatif
|
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja
sama dengan orang lain.
|
|
14
|
Cinta damai
|
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang
dan aman atas kehadiran dirinya
|
|
15
|
Gemar membaca
|
Kebiasan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan
kebajikan bagi dirinya
|
|
16
|
Peduli lingkungan
|
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada
lingkungan alam sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki
kerusakan alam yang sudah terjadi
|
|
17
|
Peduli sosial
|
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan
masyarakat yang membutuhkan
|
|
18
|
Tanggung jawab
|
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya,
yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan
(alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
|
E. Pola Penanaman Nilai-nilai Karakter dalam Al-Qur’an
Sebagai seorang muslim tentu kita tidak bisa
melepaskan kajian karakter dan penanaman nilai karakter dari Al-Qur’an, dimana
kita telah yakini bahwa Al-Qur’an tidak saja sumber hukum Islam, tetapi lebih
dari itu ia adalah kitab karakter yang Allah Swt. tanamkan kepada para nabi dan
rasul untuk menjadi teladan bagi umat manusia dalam mendidik anak-anak/generasi
penerus mereka.
Dalam perspektif pendidikan Islam, Allah Swt
adalah pendidik alam semesta (rabb al-‘alamin) dari
kata rabb itu
pulalah kata “tarbiyah” dibentuk, roba-yarbu atau
juga rabba-yurabbi yang berarti mengembangkan, memelihara,
mendidik, menjaga. Peserta didiknya para Nabi dan Rasul serta umat manusia,
sementara media dan sarana pendidikannya adalah alam semesta, para malaikat
memerankan sebagai fasilitatorNya. Dalam Al-Quran banyak ditemukan pola-pola
yang dipakai oleh Allah Swt dalam mendidik umat manusia untuk menanamkan dan memperkokoh
karakter mereka. Istilah pola kami maksudkan sebagai strategi atau metode yang
dipakai oleh Allah untuk menyampaikan pesan sekaligus penanaman karakter pada
hambaNya. Berikut ini di antara contoh bagaimana Al-Qur’an menanamkan nilai
karakter pada umat Islam:
a) Penggunaan Strategi Discovery-Inquiry ( al-Kasyfu
wa al-Wujdan)
Salah satu strategi penanaman nilai yang dipakai oleh Al-Qur’an adalah Discovery-inquiry
(al-wujdany) yang berarti menemukan. Proses strategi ini berawal dari
melihat, mengamati, menelaah, mempertanyakan, membandingkan, memetakan/mapping,
menyimpulkan, dan kemudian meyakini, dan
mengamalkan.
Dalam surat al-An'am ayat 74-79[22] Allah
mengisahkan bagaimana Ibrahim As. menemukan kebenaran (tauhid) setelah
mengkaji dan membangun pemahamannya sendiri (in sight) sampai akhirnya
ia menemukan apa yang ia cari. Proses penemuan kebenaran ini bermula ketika ia
melihat fenomena terdekat yaitu patung-patung yang dibuat oleh ayahnya (Aser),
yang berlawanan dengan akal sehatnya. Akalnya mengatakan tidak mungkin
patung-patung ini memberi manfaat atau madlarat kepada manusia karena ia
ciptaannya sendiri. Ketidakpercayaan pada patung ini membuatnya berpindah ke
benda-benda angkasa yang menurut akalnya lebih "pantas" untuk menjadi
tuhan sebagai sumber kekuatan dan pengendali kehidupan.
Maka pertama-tama ia melihat bintang-bintang yang
gemerlapan di angkasa, Ibrahim tertegun sambil menatapkan pandang sampai
akhirnya ia berkesimpulan bahwa bintang-bintang itulah tuhan yang ia cari.
Namun suatu saat bintang-bintang itu lenyap setelah munculnya bulan purnama
yang sangat terang dan indah, ketika itu sirna pulalah anggapannya pada
bintang-bintang tersebut dan tatapan matanya berpindah pada bulan, ia kagumi
dan ia hayati sampai akhirnya ia berkesimpulan bahwa bulan itulah tuhannya.
Namun tak lama kemudian seiring dengan waktu, bulan itupun lama-lama mengecil
dan akhirnya hilang, bersamaan dengan itu Ibrahim semakin ragu pada bulan dan akhirnya
ia cabut keyakinannya pada bulan.
Ia kemudian menatapkan pandangannya pada matahari yang
menurut akalnya lebih besar dan paling kuat sinarnya di antara benda-benda
angkasa lainnya, dengan logika itu ia semakin yakin bahwa matahari itulah
tuhan. Namun tatkala matahari itu selalu menghilang ketika malam tiba, maka ia
juga menyangsikannya dan akhirnya ia batalkan kepercayaannya pada matahari itu.
Pada saat ketkutan dan kebingungan menemukan "al-Haqq"
seperti itulah akhirnya Allah Swt berkenan memberikan hidayah dan bimbinganNya
pada Ibrahim lalu ia katakan: "Sesungguhnya aku hadapkan wajahku dengan
lurus kepada pencipta langit dan bumi dan bukanlah aku termasuk orang-orang
yang menyekutukanNya".
Petualangan Ibrahim As. menemukan kebenaran (hakekat) tersebut
merupakan gambaran bahwa ada jenis karakter manusia yang harus dilatih dan
dikembangkan dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah, dalam
keluarga dan di masyarakat. Karakter pada kisah Ibrahim dan ayahnya (Aser)
tersebut yang paling kuat adalah: (a) rasa ingin tahu, (b) kreatifitas, (c) kerja
keras, (d) ulet.
Aplikasinya dalam proses pembelajaran, pendidik hendaknya
selalu mengawali pembelajaran dengan Observing (melihat dan
mengamati) realitas, misalnya benda kongkrit (aslinya atau tiruannya) untuk
kompetensi sains, atau dengan mengamati kasus sosial untuk kompetensi IPS. Dari
pengamatan benda atau kasus tersebut, siswa akan mengembangkan pada Discovering
dengan melakukan questioning
(pertanyaan tingkat tinggi) misalnya mengapa bensin yang ditempat
terbuka cepat habis? atau mengapa Si Jalu terlibat dalam MIRASANTIKA? Apa
akibat bagi masa depannya? Dsb. Kegiatan pembelajaran berpindah pada
Confronting yaitu adu konsep, adu argumen dengan cara
membanding-bandingkan konsep secara mendalam, mendiskusikan tentang bahayanya
MIRASANTIKA bagi kesehatan, jiwa dan pikiran serta finansial kita, membandingkan
kondisi tubuh anak yang terlibat MIRASANTIKA dengan anak-anak yang tidak terlibat atau membandingkan dengan jenis
minuman yang sehat, memetakan faktor-faktor yang menyebabkan Si Jalu terjerumus
pada tindakan tersebut, baik faktor internal maupun faktor eksternal dirinya;
faktor keluarga, sekolah dan lingkungan di masyarakat lalu berpindah pada Inquiring
yaitu proses menemukan,
menghayati, meyakini, dan
mempedomani kebenaran teori yang dipilih lalu masuk pada tahap Reflecting yaitu proses melakukan introspeksi ulang dan
evaluasi diri (self evaluation) selama ini apakah sesuai dengan
konsep/teori yang telah diyakini tadi, dan terakhir Internalizing
yaitu proses dimana konsep/teori yang baru dipelajari itu berulang-ulang
dilihat, dipikirkan, dihayati, diyakini dan diamalkan, maka jadilah itu
karakter/kepribadian anak-anak didik kita.
b) Penanaman Nilai dengan Strategi Discussion (Mujadalah)
Masih tentang strategi pembelajaran dengan cara bertanya tingkat
tinggi dan dialog, dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 258[23] Allah Swt.
mengisahkan dialog antara Ibrahim As. dengan Namrud (Raja Babilonia). Ayat di
atas mengisahkan perdebatan Ibrahim dan Namrud tentang siapa sebenarnya yang
mempunyai kekuasaan dalam kehidupan ini. Kata Ibrahim Tuhanku bisa menghidupkan
dan mematikan manusia. Jawab Namrud: “Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan
manusia” lalu didatangkanlah oleh Namrud hamba sahaya lalu dibunuh dengan
pedangnya, Ibrahim As. lalu akhirnya mengalahkan logika Namrud ketika ia
tidak bisa merubah jalannya matahari dari timur ke barat menjadi dari barat ke
timur. Ketika itu maka "gugurlah" kepercayaan umum bahwa Namrud
adalah penguasa bumi dalam segalanya, terbukti setelah itu banyak manusia yang
mengikuti ajaran Nabi Ibrahim As.
Kisah ini kalau dicermati dari sisi pendidikan karakter akan
tampak bahwa di antara strategi penanaman nilai karakter: berani, konsisten, bertanggung jawab, integritas pribadi adalah dengan cara
membiasakan mujadalah (perdebatan) atau diskusi untuk
menemukan kebenaran sesuatu, sebuah model pembelajaran yang efektif untuk
diterapkan oleh para pendidik saat ini.
c) Penanaman Nilai Karakter dengan Keteladanan (Modeling,
Uswah).
Dalam surat al-Shaffat ayat 102-108[24] Allah Swt.
mengisahkan bahwa Ibrahim AS. telah melaksanakan perintahNya untuk menyembelih
puteranya (Ismail As.), ini menggambarkan proses pembelajaran bagi umat
manusia. Dalam ayat-ayat tersebut Allah Swt. menyatakan bahwa peristiwa ini
sungguh merupakan cobaan/ujian yang nyata, dan cobaan ini juga akan berlaku
bagi orang-orang yang datang kemudian, Ibrahim telah sukses menghadapi ujian
ini karena ia telah mampu mengalahkan egoismenya dengan cara melepas sesuatu
yang amat dicintai yaitu Ismail As.
Dalam peristiwa ini telah terjadi penanaman karakter keteguhan
pribadi Ibrahim As. Dalam melaksanakan tugas dan perintah Allah Swt
sehingga layak ditiru dan menjadi teladan puteranya. Dari sisi Ismail As
tertanam karakter loyal, patuh dan ulet/tabah dalam melaksanakan tugas yang berat dan menyakitkan. Karakter-karakter tersebut tidak diajarkan
tetapi langsung dipraktikkan dan dirasakan. Kisah ini juga menyadarkan kepada umat
manusia bahwa keluhuran dan ketinggian derajat kemanusiaan di mata Allah harus
dilalui melalui pengorbanan. Ini adalah bentuk pembelajaran yang kontekstual (Contextual
Teaching and Learning) dengan mempraktikkan langsung oleh pendidik dan peserta
didik .
d) Penanaman Nilai Karakter dengan Soal-Jawab (Question –
Answer)
Surat al-Kahfi ayat 65-82[25] berisi
kisah yang panjang yang memberikan inspirasi model pembelajaran dialogis antara
Musa As. dan Khidir As. Keduanya sedang mengadakan perbincangan mengenai
"hakekat" kehidupan. Kedudukan Musa As. saat itu sebagai pembelajar
(murid) dan Khidir As. sebagai pengajarnya.
Keduanya melakukan pembelajaran dalam kehidupan nyata
dengan melakukan perjalanan panjang. Kegiatan yang dilakukan Khidir As juga
tampak aneh, membangun rumah reot yang akan roboh, membunuh anak yang tak
berdosa, dan merusak perahu dengan melobangi dinding perahu tersebut. Alhasil,
ilmu "hakekat" akhirnya diperoleh oleh Musa As. setelah melalui
proses pengamatan dan dialog yang lama dengan Khidir As. Kisah ini sebenarnya
merupakan sebuah fragmen pembelajaran dengan mengambil bentuk bertanya dialog
(Tanya-Jawab)dalam membahas ilmu pengetahuan.
Nilai karakter yang menonjol dalam fragmen perjalanan
Musa As dan Khidir As tersebut adalah rasa ingin tahu, kebersamaan,
toleran, bertanggung jawab.
e)
Penanaman Nilai
Karakter Lewat Hukuman dan Hadiah (Reward and Punishment
Untuk menegakkan norma dan meluruskan perilaku seseorang
al-Qur'an menggunakan hukuman sebagai salah satu metode pembelajaran. Hukuman
dipilih sebagai alternatif terakhir ketika metode-metode lain sudah diterapkan
dan para peserta didik melakukan penyelewengan/penyimpangan dari norma yang
telah diketahuinya. Hukuman bukan dimaksudkan sebagai cara untuk menyakiti
peserta didik, namun hukuman bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada
mereka untuk instrospeksi dan mawas diri akan kekeliruan dan kesalahan yang
telah dilakukan di masa lalu, agar segera melakukan koreksi dan kembali ke
jalan yang benar.[26]
Kaum 'Ad, Tsamud dan kaumnya nabi Luth yang di hukum oleh
Allah adalah pelajaran bagi mereka dan bagi orang-orang yang datang kemudian
untuk tetap berada pada jalan yang benar. Hukuman/peringatan ini berlaku bagi
siapa saja termasuk bagi para kekasih Allah.
Pada sisi yang lain Allah menampakkan begitu murah dan
telah mempersiapkan hadiah bagi hambaNya yang salih dan taat kepadaNya.
Misalnya nilai sedekah dan balasan Allah kepada orang yang bersedekah 1 akan
melahirkan 7 tangkai, masing-masing tangkai akan melahirkan 100 biji. Nilai
karakter dalam hal ini adalah: disiplin, ulet, teguh dalam pendirian.
f)
Penanaman Karakter
dengan Prinsip Sinergi/Keterpaduan ( learning to know, learning to do, learning to
be, dan learning to live together)
Penyatuan
dalam penyebutan iman dan amal shalih dalam al-Qur’an diulang ulang sebanyak 52 kali. Ini
artinya iman sebagai simbol seperangkat teori pengetahuan yang bersifat
kognitif harus selalu diaplikasikan dalam aktifitas kongkrit berupa kompetensi
riil yang bersifat psikomotorik, dan kompetensi riil tersebut harus bisa
dimanifestasikan dalam kehidupan nyata di masyarakat dalam rangka mewujudkan
kehidupan bersama dengan damai bahagia dan sejahtera.
Itulah misi
iman dan amal saleh dalam Islam. Dari sini maka tidaklah seseorang dikatakan
beriman jika ia tidak mampu mengamalkan (mengaplikasikan) nilai-nilai imannya
dalam tindakan amaliyah yang nyata. Nabi Muhammad Saw. banyak mengingatkan
sahabatnya dengan kata "tidaklah beriman" misalnya dalam hadis
riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: “Demi Allah tidak
beriman, demi Allah tidak beriman”, sahabat bertanya: “Siapa ya Rasul?” jawab
beliau: “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguan lisan dan
tangannya” [27]
F. Aktualisasi
Penanaman Karakter Melalui Pendidikan
Untuk menggambarkan bagaimana aktualisasi pendidikan
karakter ini di sekolah akan tampak pada
bagan-bagan berikut:
(1)
Bagan
1 skematika karakter dalam keseluruhan kecakapan hidup (life skills) anak
didik yang berisi dua kelompok besar kecakapan yaitu kecakapan lunak (Soft skills)
dan kecakapan keras (Hardskills). Karakter masuk pada kelompok softs
kills. Alur penanaman karakter anak didik mengikuti pola : SEEING, KNOWING,
LOVING, DOING, HABITUING, dan
buahnya BEHAVING (Apa yang kita lihat akan kita pikirkan, apa
yang kita pikirkan akan kita katakan, apa yang kita katakan akan kita lakukan,
apa yang kita lakukan akan kita ulangi, apa yang kita ulangi akan kita
biasakan, apa yang kita biasakan itulah karakter kita).
(2)
Bagan
2 tentang tata kelola sekolah/madrasah
efektif, di mana pada sekolah efektif tersebut terjadi proses penanaman
karakter dengan pola di atas dan terakhir akan terjadi habituasi/pembiasaan
nilai-nilai karakter di sekolah sehingga anak didik menjadi behaving (berkarakter).
Sekolah juga menjalin networking dengan stakeholders misalnya keluarga, tokoh
masyarakat, lembaga-lembaga sosial keagamaan, lembaga-lembaga mitra (Bank,
Kantor Pos, Polsek, Industri, dsb) untuk penanaman nilai karakter.
(3)
Bagan
3 tentang tata kelola model pembelajaran efektif, di mana pembelajaran
menggunakan prinsip Active Learning, Pembelajaran berpusat pada siswa (Student
Centered Instructional). Guru/pendidik
berfungsi sebagai stimuller (pendorong, penyedia, dan pengatur dinamika
pembelajaran).
(4)
Bagan
4 tentang pendampingan anak didik dalam melakukan tugas/demonstrasi/ praktik
kecakapan keras (hard skills) misalnya, praktik melempar cakram, lempar
lembing, parktik wudlu, tayammum, shalat janazah, shalat jamak/qasar, shalat
dluha, dsb. untuk menanmkan karakter terampil, cermat, dan religius.
G.
Khatimah
Itulah sekelumit orasi yang dapat kami sampaikan tak lupa
kami mohon maaf jika dalam tulisan ini ada yang kurang berkenan, kritik membangun,
tegur sapa selalu kami harapkan demi kesempurnaan kajian ini.
Terakhir terima kasih kami sampaikan kepada pimpinan
insitut, para pimpinan fakultas, sahabat-sahabat karib kami: pak Jazil, pak
Munawir, bu Titik, pak Junaidi, pak Saifuddin, pak Asep, bu Lisah, bu Irma, bu
Alvin, b Maunah, pak Rubaidi, pak Syafi’i, dan semua karyawan Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan (FITK) atas dorongan dan motivasi yang diberikan kepada
kami, dengan iringan do’a semoga Allah Swt membalas dengan balasan yang berlipat
ganda, Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Battistich, Victor,
Character Education, Prevention, and Positive Youth Development, University of
Missouri, St Louis, USA, 2002.
Becker, Jaques S., et
all., The Relationship of Character Education Implementation and Academic
Achievement in Elementary School, Journal of Research in Character
Education, California State University 1 (1), Fresno, 2003.
Berkowit, Marvin W.,
and Melinda C Bier, What Work in Character Education, Character
Education Partnership, Washington DC., 2005)
Backford, Katherine
M.H., and Arthur Newcomb, Analyzing Character, Gutenberg eBook, 2004)
Josephson Institute, Character
Counts, Center for Youth Ethic, USA, 2007)
Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa, Kementrian
Koordinator Kesejahteraan Rakyat., 2010.
Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007, Tentang Pendidikan Agama dan
Keagamaan
Pusat Kurikulum, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa,
Badan Litbang, Kementrian Pendidikan Nasional, 2010.
State Board of
Education, Character Education Informational Handbook and Guide for Support
and Implementation for STUDENTS Citizen Act of 2011, Character and Civic
Education, Department of Public Instruction, North Caroline, USA, 2001.
Undang-undang No. 20
Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Webber, Jonathan, Sarte’s
Theory of Character, Europe Journal of Philosophy, Blackwell Publishing
House, UK, 2006)
Winataputra, Udin s., Implementasi
Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Karakter,
Konsep, Kebijakan, dan Kerangka Programatik, Makalah Seminar di Surabaya,
2010.
Mohammad Jamaluddin
al-Qasimy, Tafsir Mahasin al- Ta’wil,
Kairo: Darul Ahya’, I, tt., hal. 8.
Tafsiran senada juga dikemukakan oleh Abu Su’ud bin Muhammad ‘Imady
al-Hanafi, Tafsir Abi Su’ud, Riyad:
Maktabah Riyad, tt, jilid 1
Abdul Fattah Jalal, Min Ushuli al-Tarbiyah fi al-Islam,
Mesir: Dar a-Kutub al-Misriyyah, 1977
Ismail Haqi al-Buruswy, Tafsir Ruhul
Bayan, Beirut: Darul Fikr, I, Juz 1
Musthafa al-Ghalayani, Idhatun
Nasyi’in, Beirut: Maktabah Ashriyyah, VI, 1949, hal. 185
Musthafa al-Maraghy, Tafsir al-Maraghy, Beirut: Darul Fikr, Jilid I.
Abdul Rahman
al-Rahlawy, Ushul al-Tarbiyah
al-Islamiyah wa Asalibuha, Beirut: Dar al-Fikr, I, 1979.
Mohammad ‘Athiyyah al-Abrasyi, Ruhu
al-Tarbiyah wa al-Ta’lim, Saudi Arabiah: Dar al-Ahya’.
Omar Mohammad Thoumy al-Syaibani, Falsafah
Pendidikan Islam, terj., Surabaya: Bina Ilmu, I, 1986.
Ahmad Fuad
al-Ahwany, al-Tarbiyah fi
al-Islam, Mesir: Dar al-Ma’arif, tt.
Ali Khalil Abu
al-‘Ainain, Falsafatu al-Tarbiyah
al-Islamiyyah fi al-Qur’an al-Karim, Beirut: Dar al-Fikr al-Araby, 1980, I.
Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis
Kompetensi: Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004 Bandung: Rosda Karya, 2004.
Syed
Mohammad Nuqaib al-Attas, Aims and Objectives of Islamic Education, Jedah:
King Abdul Aziz University, 1979.
Mohammad Munir
Mursy, al-Tarbiyah al-Islamiyyah Ushuluha
wa Tathawwuruha fi al-Bilad al-Arabiyyah, Kairo: Alam al-Kutub, 1977.
Mohammad Fadhil al-Jamali, Filsafat Pendidikan dalam Al-Qur’an, (terj.) Judial Falasani,
Surabaya: Bina Ilmu, 1986.
Mohammad
Quthub, Manhaj al-Tarbiyah al-Islamiyyah,
Kairo: Dar al-Syuruq, 1400 H, Cet. IV.
Omar Moh}ammad al-Thoumy al Syaibani, Filsafat Pendidikan
Islam, terj. (Jakarta: Bulan Bintang, 1979).
HM.
Arifin, Filsafat Pendidikan Islam,
Jakarta: Bina Aksara,I, 1987.
--------, Ilmu Pendidikan
Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasar Pendekatan Multidisipliner, Jakarta: Bina
Aksara, 1991, I, 40. Lihat pula: Second Word Conference on Muslim Education,
International Seminar on Islamic Concept and Curriculla Recommendation, 15 to
20 March 1980, Islamabad.
Webber,
Jonathan, Sarte’s Theory of Character, Europe Journal of Philosophy, Blackwell
Publishing House, UK, 2006.
Battistich,
Victor, Character Education, Prevention, and Positive Youth Development,
University of Missouri, St Louis, USA, 2002.
Blackford,
Katherine M.H., and Arthur Newcomb, Analyzing Character, Gutenberg,
eBook, 2004.
[3] Mohammad Jamaluddin al-Qasimy, Tafsir Mahasin al- Ta’wil, Kairo: Darul
Ahya’, I, tt., hal. 8. Tafsiran senada
juga dikemukakan oleh Abu Su’ud bin Muhammad ‘Imady al-Hanafi, Tafsir Abi Su’ud, Riyad: Maktabah Riyad,
tt, jilid 1, hal.19
[4]Abdul Fattah Jalal, Min Ushuli al-Tarbiyah fi al-Islam,
Mesir: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1977, hal. 7
[6] Musthafa al-Ghalayani, Idhatun Nasyi’in, Beirut: Maktabah
Ashriyyah, VI, 1949, hal. 185
[7]Musthafa al-Maraghy, Tafsir al-Maraghy, Beirut: Darul Fikr, Jilid I, hal. 30
[8] Abdul Rahman al-Rahlawy, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha,
Beirut: Dar al-Fikr, I, 1979, 13.
[9]Mohammad ‘Athiyyah al-Abrasyi, Ruhu al-Tarbiyah wa al-Ta’lim, Saudi
Arabiah: Dar al-Ahya’, hal.7
[10]Omar Mohammad Thoumy
al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, terj.,
Surabaya: Bina Ilmu, I, 1986, hal. 3
[12]Syed
Mohammad Nuqaib al-Attas, Aims and Objectives of Islamic Education, Jedah:
King Abdul Aziz University, 1979 hal.1
[13]
Mohammad Munir Mursy, al-Tarbiyah al-Islamiyyah Ushuluha wa
Tathawwuruha fi al-Bilad al-Arabiyyah, Kairo: Alam al-Kutub, 1977, hal. 18
[14]Lihat:
Mohammad Fadhil al-Jamali, Filsafat
Pendidikan dalam Al-Qur’an, (terj.) Judial Falasani, Surabaya: Bina Ilmu,
1986, hal. 3
[15]
Mohammad Quthub, Manhaj al-Tarbiyah
al-Islamiyyah, Kairo: Dar al-Syuruq, 1400 H, Cet. IV, hal. 13
[16]Omar Mohammad al-Thoumy al Syaibani, Filsafat
Pendidikan Islam, terj. (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 489-518.
[17]
Webber, Jonathan,
Sarte’s Theory of Character, Europe Journal of Philosophy, Blackwell
Publishing House, UK, 2006, hal. 95
[18]Battistich,
Victor, Character Education, Prevention, and Positive Youth Development,
University of Missouri, St Louis, USA, 2002, hal. 2
[19] Blackford, Katherine
M.H., and Arthur Newcomb, Analyzing Character, Gutenberg,
eBook, 2004, 25.
[20]Lihat: Pusat Kurikulum, Pengembangan Pendidikan Budaya dan
Karakter Bangsa, Badan Litbang, Kementrian Pendidikan Nasional, 2010, hal. 9
[21]Pusat Kurikulum, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa,
Badan Litbang, Kementrian Pendidikan Nasional, 2010, hal. 9-10
[22]Arti
ayat-ayat tersebut adalah: "Dan (ingatlah) waktu Ibrahim berkata kepada
bapaknya Azar: Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?,
sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata (74). Dan
demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang
terdapat) di langit dan di bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim
termasuk orang-orang yang yakin (75). Ketika malam telah menjadi gelap, dia
melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inikah Tuhanku", tetapi
tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang
tenggelam" (76). Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata:
"Inikah Tuhanku" tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata:
"Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku pastilah aku
termasuk orang-orang yang tersesat" (77). Kemudian tatkala ia melihat
matahari terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku ini yang paling besar",
ketika matahari itu terbenam dia berkata:"Wahai kaumku sesungguhnya aku
berlepas diri dari apa yang kau sekutukan"(78). Sesungguhnya aku
menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan
cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan (79)
[23]Artinya:
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim (Namrudz)
tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu
kekuasaan, ketika Ibrahim mengatakan:"Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan
mematikan", orang itu berkata: "Akulah yang menghidupkan dan
mematikan", Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari
dari timur maka terbitkanlah ia dari barat", lalu heran terdiamlah orang
kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
[24]"Maka
tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,
Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku
menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu". Ia menjawab:
"Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah kamu
akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (102). Tatkala keduanya telah berserah diri dan
Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipisnya (nyatalah kesabaran
keduanya) (103). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim (104), Sesungguhnya
kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik" (105). Sesungguhnya ini benar-benar
merupakan ujian yang nyata (106). Dan kami tebus anak itu dengan seekor
sembelihan yang besar (107). Dan kami abadikan untuk Ibrahim itu dikalangan
orang-orang yang datang kemudian (108)
[25]Artinya:"Lalu
mereka bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami
berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya
ilmu dari sisi Kami" (65). Musa berkata kepada Khidir: "Bolehkan aku
mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu-ilmu yang telah diberikan
kepadamu?"(66)
[26] lihat; Mohammad Qutub, Manhaj al-Tarbiyah
al-Islamiyyah, (Kairo, Dar al-Shuruq, tt). hal. 233-236.
[27] Lihat; Al-Imam Abi Zakariya Yahya bin
Sharaf Al-Nawawi, Riyadu al-Salihin (Jedah: Dar al-Qublah li al-Tsaqafah al-Islamiyyah,
1990), hlm. 152.
Komentar
Posting Komentar